SUNSHINE
  • WpView
    Reads 2,135
  • WpVote
    Votes 342
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 30, 2020
You're my Sunshine, only you. ••• Venus dengan segala trauma di dalam hidupnya. Menjadi korban bullying tentu merubah Venus jadi pribadi yang berbeda, pastinya lemah dan menutup diri. Cepat atau lambat Venus harus keluar dari zona nyamannya. Interaksi harus terjalin dengan baik di hidupnya. Hingga sang Papa memutuskan untuk kembali memindahkan Venus ke sekolah formal, Sanggup kah Venus kembali menerima semua tatapan menghakimi orang orang? Atau sanggup kah dia merasakan patah hati ketika mengenal Mars? Siapa yang tahu akan seperti apa kisah ini, jika kalian penasaran bacalah. Jika tidak tentu tak masalah. "Rinai hujan mengenalkanku padamu lalu rinai hujan juga yang membuatku membencimu." _________________________________________ ATTENTION! Mohon maaf jika tujuanmu membaca cerita ini adalah untuk menjiplaknya, saya sarankan cari cerita lain. Kamu tidak tau seberapa kerasnya saya berjuang membuat cerita ini bangkit lagi. Dan ingat! Semua cerita memiliki hak ciptanya masing masing. Hukum adil bagi orang yang beropini aturan di ciptakan untuk di langgar. Publish, 21 Desember 2018. Revisi, 24 November 2019.
All Rights Reserved
#5
marsvenus
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Because of You
  • Mars untuk Venus
  • All Too Well
  • Story About Him (SELESAI)
  • 3.6.5 ✔
  • RAIHAN
  • KIATHAN [END✔]
  • Eh, Mars!

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines