Mata Uang Cinta

Mata Uang Cinta

  • WpView
    Reads 85
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 28, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Mata uang adalah sesuatu yang memiliki dua sisi. Begitu pun cinta dalam hidupku, Setidaknya yang aku ingat. Aku hanyalah seseorang yang pernah melakukan kesalahan dan berusaha untuk tak mmbuat kesalahan lain untuk menutupinya. Tak pernah berharap hidup yang sempurna, tapi berusaha membuat hidupku terasa sempurna. Cerita ini dibuat untuk senang-senang menyambut anniv GWT. Mudah-mudahan bisa kelar walau mungkin akan terseok-seok,maklum baru belajar menulis
All Rights Reserved
#243
menulis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • PENGECUT EGOIS -gxg-
  • TSUNDERE || S2 (END)
  • Self Injury's(complete)✔
  • 3D Inside
  • SAKRAL (Ikatan Yang Suci)
  • FALLING IN LOVE
  • Air Mata Cinta
  • My Little Monster - Completed
  • flashback~

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines