Thank you, Ex

Thank you, Ex

  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 21, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Nama gue Elang Adiwijaya. Lo bisa panggil El, atau Lang, intinya bukan Adi ataupun Wijaya. Yang jelas gue bukan cowok baik-baik. Bukan juga Bad Boy. Karena menurut gue julukan Bad Boy itu cuma buat bocah. Dan gue bukan bocah. Gue remaja 16 tahun. Hidup bebas di perkotaan tanpa orangtua dan tinggal sendirian di sebuah apartemen mewah. Bukan mati, mereka masih hidup, tapi gue nggak tau dan nggak mau tau soal itu semua. Awalnya motto hidup gue itu simpel, cuman sebatas YOLO. Jadi seenggaknya gue harus ngelakuin apa yang gue suka. Semuanya. Sampai akhirnya gue ketemu cewek yang ngerubah hidup gue. Well, selamat menikmati cerita klasik di mana cowok jatuh cinta dan rela berubah demi cewek yang dia suka. Tapi ini nggak seklise itu. So, enjoy!!!!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Ideal Boyfriend [TAMAT]
  • RAHASIA LAMPU KOTA (✔)
  • Baper. (Completed)
  • JULIE 'I'm not a BadGirl '
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • AL AL GANG [Complicated]
  • Treacherous
  • BAD GIRL

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines