Story cover for Kata Hati by LutfiKusumawati
Kata Hati
  • WpView
    Reads 1,038
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 13
  • WpView
    Reads 1,038
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 13
Ongoing, First published Dec 21, 2018
Ketika bibirku tak sanggup bicara.
Dan aku hanya bisa menulis kata kata yang bisa mewakilinya.



~Lutfi



Baca ceritaku yg kedua ini ya 
Update setiap mood bagus
Kata kata ini terinspirasi dari pengalamanku,cerita sahabat maupun kehidupan sehari hari dan murni dari imajinasiku.

Happy reading gays😘



*PLAGIAT DILARANG MASUK
All Rights Reserved
Sign up to add Kata Hati to your library and receive updates
or
#975imajinasi
Content Guidelines
You may also like
Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia] by shazzy1612
48 parts Complete Mature
DISCLAIMER Cerita ini sepenuhnya fiksi. Tidak ada hubungannya dengan kejadian, individu, atau entitas di dunia nyata, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Kesamaan apa pun hanyalah kebetulan belaka dan tidak disengaja. Ling Ling Kwong & Orm Kornnaphat, tentu saja, adalah gadis-gadis yang luar biasa dan tidak seperti karakter yang digambarkan dalam fanfiksi ini. Ingat, ini hanyalah fanfiksi! Selamat membaca! **Semua foto dikreditkan kepada pemiliknya masing-masing. Prolog Pertama kali Ling bertemu Orm, usianya enam tahun. Ia bersembunyi di balik kaki ibunya di sebuah kafe yang ramai, penuh dengan aroma kopi segar yang menyelimuti udara. Itu adalah tempat favorit orang tuanya, meski Ling sendiri jarang memperhatikannya-hingga hari itu tiba. Orm, seorang gadis kecil dengan celemek yang kebesaran, berdiri di belakang meja kasir dengan bertumpu pada ujung jari kakinya, menyusun paket gula dengan penuh konsentrasi. Ia mendongak, menatap mata Ling, lalu tersenyum lebar. "Mau bantu?" tanya Orm, sambil menyodorkan satu paket gula. Ling ragu. Ia belum pernah diajak melakukan hal yang begitu biasa sebelumnya. Tapi nada hangat dalam suara Orm terasa berbeda dari sapaan sopan yang biasa ia dengar. Sejak saat itu, Ling dan Orm tak terpisahkan. Perbedaan di antara mereka tak pernah menjadi masalah. Ling dengan gaun desainer dan mobil antar-jemputnya, sementara Orm dengan pakaian sederhana, selalu beraroma kopi dan roti panggang hangat. Mereka membangun dunia mereka sendiri di dalam kafe kecil itu, berbagi rahasia, impian, dan tawa. Tapi ada hal-hal yang tak pernah terucap. Orm tak pernah memberitahu bahwa jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali Ling tersenyum padanya. Dan Ling? Ia tidak menyadari apa pun. Ia percaya bahwa takkan ada yang berubah di antara mereka. Hingga hari saat ia jatuh cinta pada orang lain.
𝑳𝒐𝒗𝒆 𝑺𝒄𝒆𝒏𝒂𝒓𝒊𝒐 🌹 by Rcsy2001
108 parts Complete
'𝓓𝓲𝓪𝓻𝔂 𝓸𝓯 𝓜𝔂 𝓕𝓮𝓮𝓵𝓲𝓷𝓰'𝓼.' 𝐼𝑛𝑖 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑢 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑗𝑎𝑟𝑖 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑏𝑢𝑎ℎ ℎ𝑢𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎𝑎𝑛. 𝑅𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑠ℎ𝑖𝑝. 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑠 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑖, 𝑘𝑎𝑟𝑛𝑎 𝑎𝑘𝑢 ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑖𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 ℎ𝑎𝑡𝑖. 𝑀𝑒𝑛𝑔𝑔𝑢𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛 ℎ𝑎𝑡𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡, 𝑗𝑢𝑗𝑢𝑟. 𝑀𝑒𝑛𝑦𝑒𝑏𝑎𝑙𝑘𝑎𝑛. 𝑇𝑎𝑝𝑖 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟𝑛𝑦𝑎 ℎ𝑎𝑡𝑖 𝑖𝑘𝑢𝑡 𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑎𝑙𝑖ℎ 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚𝑛𝑦𝑎. 𝐷𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖𝑙𝑎ℎ 𝑤𝑜𝑟𝑘 𝑖𝑛𝑖. 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑖𝑚𝑝𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑐𝑎𝑛𝑡𝑢𝑚𝑘𝑎𝑛 𝑛𝑎𝑚𝑎, 𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠, 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑗𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑎𝑐𝑎. 𝐻𝑜𝑝𝑒 𝑦𝑜𝑢 𝑒𝑛𝑗𝑜𝑦 𝑖𝑡!🌹 -𝑅𝑐𝑠𝑦2001-
You may also like
Slide 1 of 8
Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia] cover
Just A Friend cover
Fall in love with Ghost cover
Girls ( Woman) cover
ABSURD QUOTES I cover
𝑳𝒐𝒗𝒆 𝑺𝒄𝒆𝒏𝒂𝒓𝒊𝒐 🌹 cover
Almost. cover
Quotes cover

Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia]

48 parts Complete Mature

DISCLAIMER Cerita ini sepenuhnya fiksi. Tidak ada hubungannya dengan kejadian, individu, atau entitas di dunia nyata, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Kesamaan apa pun hanyalah kebetulan belaka dan tidak disengaja. Ling Ling Kwong & Orm Kornnaphat, tentu saja, adalah gadis-gadis yang luar biasa dan tidak seperti karakter yang digambarkan dalam fanfiksi ini. Ingat, ini hanyalah fanfiksi! Selamat membaca! **Semua foto dikreditkan kepada pemiliknya masing-masing. Prolog Pertama kali Ling bertemu Orm, usianya enam tahun. Ia bersembunyi di balik kaki ibunya di sebuah kafe yang ramai, penuh dengan aroma kopi segar yang menyelimuti udara. Itu adalah tempat favorit orang tuanya, meski Ling sendiri jarang memperhatikannya-hingga hari itu tiba. Orm, seorang gadis kecil dengan celemek yang kebesaran, berdiri di belakang meja kasir dengan bertumpu pada ujung jari kakinya, menyusun paket gula dengan penuh konsentrasi. Ia mendongak, menatap mata Ling, lalu tersenyum lebar. "Mau bantu?" tanya Orm, sambil menyodorkan satu paket gula. Ling ragu. Ia belum pernah diajak melakukan hal yang begitu biasa sebelumnya. Tapi nada hangat dalam suara Orm terasa berbeda dari sapaan sopan yang biasa ia dengar. Sejak saat itu, Ling dan Orm tak terpisahkan. Perbedaan di antara mereka tak pernah menjadi masalah. Ling dengan gaun desainer dan mobil antar-jemputnya, sementara Orm dengan pakaian sederhana, selalu beraroma kopi dan roti panggang hangat. Mereka membangun dunia mereka sendiri di dalam kafe kecil itu, berbagi rahasia, impian, dan tawa. Tapi ada hal-hal yang tak pernah terucap. Orm tak pernah memberitahu bahwa jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali Ling tersenyum padanya. Dan Ling? Ia tidak menyadari apa pun. Ia percaya bahwa takkan ada yang berubah di antara mereka. Hingga hari saat ia jatuh cinta pada orang lain.