Ini Cerita Kita

Ini Cerita Kita

  • WpView
    OKUNANLAR 44
  • WpVote
    Oylar 0
  • WpPart
    Bölümler 3
WpMetadataReadDevam ediyor
WpMetadataNoticeSon yayınlanan Cts, Ara 29, 2018
'Kamu, bertahun-tahun sama aku masih bisa kamu sebut nama dia di depan teman barumu!' 'Jangan egois yak , aku udah cape' 'Aku udah maafin kamu, tapi maaf kita sudah selesai' 'Tapi? kenapa masalah sepele begini kamu mutusin aku! masalah kita banyak yang lebih besar, tapi kenapa harus sekarang vin' hampir habis airmata azkeya, wanita yang telah bersama devino sejak kelas 3 SMP. 'Itu kamu, bukan aku! aku gak bisa sepertimu yak, cukup aku mau turun! Pulanglah kamu, terima kasih yak, semuanya. Jaga dirimu baik-baik' Apakah segini saja rasa sayangmu vin? mengapa masalah seperti ini malah membuat kita berpisah? apa benar kamu tidak mencintaiku vin? sakit hatiku pun lebih besar tapi aku bisa melewatinya, aku memilih bertahan vin? kenapa kamu tidak? Dengan air mata yang tidak berhenti dan semakin deras menghujani pipi merahnya walaupun ia sudah menyekanya, Azkeya menyetir mobil sedannya dengan kecepatan 100 km/jam ditengah keramaian kota dengan emosi yang tidak stabil, sangat kacau. 'Hallo?'
Tüm hakları saklıdır
#581
kita
WpChevronRight
En büyük hikaye anlatıcılığı topluluğuna katılınKişiselleştirilmiş hikaye önerileri alın, favorilerinizi kütüphanenize kaydedin ve topluluğunuzu büyütmek için yorum yapın ve oy verin.
Illustration

Ayrıca sevebilecekleriniz

  • Secarik Kertas Pengantar Tidur
  • AGGA
  • SORRY || Brighttu
  • GeVania [END]
  • Guru Killer Siswi Keder 《proses Revisi》
  • Arsyilazka
  • Because Of You [PROSES REVISI]
  • "He's mine"
  • TUBUH GADIS NERD [END]

Kini malam adalah sahabat sekaligus algojo bagi Naka. Seribu sembilan puluh lima kali matahari telah terbenam sejak hari itu-seribu sembilan puluh lima kali kegelapan datang menghampiri, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Dia mencoba segalanya. Minum susu hangat sebelum tidur. Menghitung domba hingga angka yang tak masuk akal. Bahkan meminum pil tidur yang membuat kepalanya berat seperti batu. Tapi tak satu pun berhasil mengusir bayangan itu-bayangan seorang wanita dengan senyum yang dulu mampu menerangi kegelapannya. "Tuhan," desisnya malam ini, suaranya parau seperti kertas yang tergores. "Aku mohon... biarkan aku tidur tanpa mimpi. Hanya untuk sekali ini saja." Bantalnya basah sebelum ia menyadari air mata yang mengalir. Tangannya mencengkeram erat-erat kain itu, seolah takut suara hatinya yang pecah akan terdengar oleh dunia. Tiga tahun. Waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, kata orang. Tapi mengapa lukanya justru semakin dalam? Bertemu Vanya dulu seperti menemukan oasis di tengah gurun kehidupan. Wanita itu memberinya warna-warna yang tak pernah ia kenal sebelumnya-kuning cerah tawa mereka di Bromo, biru tenang obrolan larut malam, merah jambu pipi Vanya saat marah. Tapi sekarang? Semua berubah menjadi abu-abu. Kenangan itu berubah menjadi kutukan. Setiap kali ia menutup mata, yang terlihat adalah wajah Vanya yang hancur saat terakhir kali mereka bertemu. "Kalau ini yang terbaik untukmu, Nak, aku ikhlas." Dan kebodohan-oh, kebodohannya yang tak termaafkan! Malam ini, Naka menyerah. Dia mengambil buku kecil yang tersembunyi di bawah bantal-saksi bisu dari semua penyesalan yang tak terucap. Halamannya sudah keriput oleh air mata dan jari-jari yang gemetar. Naka menutup buku itu perlahan, seperti menyimpan kembali potongan jiwanya yang tercecer. Di luar jendela, Jakarta masih berdenyut dengan lampu-lampunya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar ini, yang ada hanya seorang lelaki dan malam yang tak pernah benar-benar berakhir.

Daha fazla bilgi
WpActionLinkİçerik Rehberi