Aku ingin seperti dandelion.
Yang tetap tegar saat aku diinjak dan dilupakan,
Yang tetap kuat hidup di atas tanah lembab bahkan tandus dan gersang,
Aku ingin seperti dandelion yang indah dan kuat,
Yang membawa sejuta harapan walaupun akan jatuh karena harapan itu sendiri.
Teruntuk kalian yang sedang kecewa, patah hati, dan putus asa,
Jangan pernah kalian tenggelam dalam kesedihan,
Percayalah, ada masanya semua masalah akan menemukan titik terang.
==========================
Selamat membaca readers!
Much loves,
Stephany Trista
[FOLLOW ME BEFORE READING.]
Apa yang akan dilakukan saat waktu hampir habis? Waktu yang selama ini tidak pernah berhenti, tiba-tiba mengajak untuk menghabisi dunia.
Kau pikir, semuanya akan baik-baik saja. Sampai saat yang paling lama kau baru boleh pergi. Tapi tiba-tiba, kau teringat tentang waktu yang selama ini telah kau habiskan. Lalu menyesalinya. Seolah-olah kau ingin memiliki lebih banyak waktu lagi.
Menurutmu, apa semuanya masih bisa baik-baik saja?
Gilang memikirkan hal yang sama setelah ia mendapat tugas untuk menjaga saudara angkatnya. Bukannya apa-apa, Gilang hanya tidak mau menghabiskan waktunya yang tidak seberapa untuk tugas menjaganya itu. Ia juga tidak mau menyerahkan waktunya bersama orang lain. Bahkan sedetik pun.
Tapi siapa yang tahu, Gilang malah jatuh cinta pada saudara angkatnya.
Mati-matian ia berusaha agar Adin tidak balas mencintainya. Dan sekarang, semua terserah pada Gilang. Karena waktunya tidak bisa menunggu.
Setidaknya, sampai mati.
[PLEASE, DON'T COPY MY STORY.]