Remind
  • WpView
    Reads 699
  • WpVote
    Votes 160
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 5, 2019
Cinta itu sebenarnya hanya membutuhkan keikhlasan, bukannya keterpaksaan. Cerita ini tak akan sesederhana yang terlihat, semua kisah bercampur jadi satu dalam satu ingatan, cerita ini tak akan sesimpel judul nya, karena "dont judge the book by the cover" "Tak ada jalan yang tak bercabang, tak ada lembah yang tak dalam, air dalam gelas tak akan mengalahkan banyak nya air di lautan, hembusan angin tak akan mengalahkan hembusan badai." Begitu sederhananya sebuah kisah, begitu indahnya sebuah takdir. Temukan kejutan di dalamnya :))
All Rights Reserved
#14
tahajjud
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Penuh Luka (On Going)
  • Ikhlasku Merelakanmu (END)
  • LUMEN: Awal Perjalanan Takdir
  • Fajar & Senja
  • Zidan With Syakira
  • FLAMBOYAN
  • SMARA DIKTA
  • ANTARA DOA DAN RASA

No copas! Cerita ini hanya fiksi, hasil ide saya sendiri! Kisah ini tentang seorang gadis muda yang hidup dengan luka batin yang mendalam akibat ayahnya membiarkan ibunya untuk wanita lain. Luka ini tidak hanya mempengaruhi ibunya, tetapi juga dirinya sendiri. Ia tumbuh dengan perasaan tidak cukup baik, merasa bahwa dirinya tidak cukup berharga di mata ayahnya. Ia harus menghadapi setiap masalah dan ucapan dari ayah nya dan wanita pelakor itu. Namun, di tengah-tengah kesedihan dan kekecewaan, ia berusaha untuk bangkit dan menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri. Melalui perjalanan hidupnya, ia belajar untuk menerima keadaan dan memaafkan ayahnya, meskipun itu tidak mudah. Cerita ini adalah genre perjuangan, kesedihan, dan proses penyembuhan, serta bagaimana seseorang dapat bangkit dari keterpurukan dan menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri. ••• Dengan langkah cepat, Hendra menghampiri Melia yang melihat dirinya datar. "Apa yang kau lakukan, Melia?!" tanya Hendra dengan nada tingginya. Melia melirik pada Rina sebentar yang meringis kesakitan, lalu menatap Ayahnya lagi yang berada di hadapannya. "Ayah punya mata 'kan?" Melia bukan menjawab melainkan memberi pertanyaan. "Aku hanya berlatih melempar benda pada tempatnya kok," lanjutnya lalu melangkah pergi. "Melia!" Penasaran dengan alurnya? baca yok, jangan lupa follow dulu💋

More details
WpActionLinkContent Guidelines