"satu hal yang harus kamu tahu, Nabila. Kita tidak boleh menaruh harap dengan sepenuh hati kepada manusia, karena manusia bukanlah siapa-siapa, manusia tidak bisa apa-apa. Jikalau pun mereka memang memiliki apa yang kita cari selama ini, sejatinya manusia hanyalah perantara karena pada hakikatnya semua itu berasal dari Sang Maha. Kita, hanya seorang hamba. Jika saja apa yang sedang kamu jalani saat ini terasa menyiksa, mungkin ada pengharapan yang salah diantara harap yang kau labuhkan." Muhammad al-Fatih.
Perkataanmu tempo hari memang benar Fatih, aku saja yang terlalu bodoh untuk bisa menyerap kata-katamu. karena tanpa sadar setelah kamu mengatakan itu, ada harapan yang kembali tumbuh hingga berhasil membuat sungging senyum menghiasi wajah sepanjang hari. Kupikir harapan itu akan benar-benar terwujud, namun, aku salah, harapan itu tumbuh untuk kemudian kembali patah.
Apa yang harus aku lakukan? Menumbuhkan harap yang ketiga atau menjalani hidup dengan hampa tanpa cinta dan cita? Fatih, haruskah aku, seorang Nabila Agniaul Hasna menyerah pada semua cinta dan citaku, haruskah?
Todos los derechos reservados