pianis and violis

pianis and violis

  • WpView
    LECTURAS 19
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadConcluida lun, dic 31, 2018
WpInfo
Ficción
Romance
kisah ini bercerita tentang Maulana acha, pianis cilik berbakat yang kemampuan nya sudah diakui oleh musisi-musisi papan atas. Tak terhitung berapa jumlah piala maupun piagam yang telah didapatkannya dari berbagai kompetisi yang diikutinya - mulai dari dari tingkat RT, RW, kelurahan bahkan sampai ke tingkat nasional sekalipun Maulana tetap menjuarai kompetisi itu . Akan tetapi, kehidupannya berubah 360 derajat setelah ibundanya (sekaligus guru pianonya) dipanggil oleh Yang Maha Kuasa (Allah SWT) Sejak saat itu, dia tidak pernah mengikuti kompetisi piano lagi. Dia mengalami trauma mendalam yang membuatnya tidak bisa mendengar alunan suara piano yang dimainkannya dan bahkan dia tidak Mau menyentuh piano sekali pun . Dua tahun telah berlalu, namun trauma itu masih membekas di hati Maulana . Dalam kurun waktu tersebut, dia sama sekali tidak pernah memainkan piano kesayangannya lagi. Hingga pada suatu hari, tepatnya pada Bulan April, dia bertemu dengan seorang violinist cantik bernama Yana Alicia . Dari sinilah kisah ini bergulir.
Todos los derechos reservados
#28
scoollife
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Gula - Gula
  • Fragments
  • Geng Bratadikara (TERBIT) ✓
  • Cinta Senja Sampai Ke Awan
  • Dentingan Peony[END]
  • troublemaker VS ketos! ✔
  • Titik Temu
  • Lauren's Secret Love

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido