We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Time Machine and A Pen [kpop oneshoot]

Time Machine and A Pen [kpop oneshoot]

  • WpView
    Reads 560
  • WpVote
    Votes 33
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 31, 2025
WpInfo
Fanfic
"Dek, kamu bukannya besok ulangan? Kok main HP mulu?" "Bentar, ma. Aku lagi nulis cerita" "Lagi-lagi nulis gituan. Gak penting tau, mending sekarang kamu belajar. Lagian juga cerita kamu isinya ngayal-ngayal doang" "Terserah, pokoknya aku suka. Belajar kan bisa nanti" Namanya "Time Machine and A Pen", kenapa? Karena setiap aku menulis waktu terasa lambat dan cepat di saat yang bersamaan. Aku tenggelam dalam waktu, mengetik apapun yang ibu jari ini mau. Bisa dari masa laluku, dari mimpiku, atau khayalanku tentang apa yang mungkin akan terjadi di masa depan Mesin persegi panjang ini sudah menjadi pena dan buku khayalanku Ini dunia dongengku Silahkan, kau boleh masuk... "Lu kenapa sih? Merem sambil senyum-senyum gitu, ngehalu lagi lu?", ujar temanku, membuyarkan imajinasiku yang sedang sesubur tunas bawang [Isinya imagine + cerita sok keren] [Kalo senja ngapain? Minum kopi, main gitar] [Menyediakan cerita BTS, EXO, Stray Kids. Untuk grup lain mungkin ada, tapi gak banyak]
All Rights Reserved
#793
fangirl
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Arsyilazka
  • Random Story
  • DEAL | Friend Into Lover| Lengkap✔
  • Sosiologi Cinta (TAMAT)
  • Short Story
  • Sepertiga Malam Adinda & Angkasa
  • Among The Stardust
  • Pelangi dan Senja [End]
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines