Terimakasih, Mas!

Terimakasih, Mas!

  • WpView
    Leituras 181
  • WpVote
    Votos 12
  • WpPart
    Capítulos 1
WpMetadataReadConcluída ter, jan 1, 2019
WpInfo
Ficção
Romance
Aku masih terpekur di depan pintu. menatap nanar pada sosok yang berdiri di hadapan ku. Kenapa dia seperti ini? Apa yang terjadi? Pertanyaan yang berjejalan di benak ku tidak ada satupun yang keluar dari mulut ku. Ku genggam erat pegangan pintu guna menahan gemetarku. Ya Allah. Sudah, Cukup.
Todos os Direitos Reservados
#763
jihan
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • My 5 Novel
  • Best Love Stories
  • Who Am I? (𝐎𝐍 𝐆𝐎𝐈𝐍𝐆)
  • Takdirku Untukmu (END)
  • Di Balik Niqab [TERBIT]
  • [ New ] MIKACINTA [ END ]
  • [SB I] Terperangkap Dalam Tanya [COMPLETED]
  • Attention to Detail [END]
  • Antologi Cerpen & Cerbung (Kumpulan Cerita Pendek)

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo