Purple
  • WpView
    Reads 234
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 14, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Entah sejak kapan hidup Adisla jadi tidak adil dan tidak masuk akal. Seseorang tidak akan menjamin hidupnya bertahan lama jika bersama pemuda gila itu. Adisla geram setengah sekarat karena June hanya diam ditempatnya. Ini kali pertama Adisla menghadap meja pengadilan dan duduk dikursi pesakitan. Semuanya salah June! Bagaimana June pagi ini sudah nangkring didepan rumahnya seperti tukang ojek. Lalu dengan paksa membuat Adisla berangkat bersama. Parahnya, meski bungkam, June tak pernah menjauh seincipun dari Adisla. Tangan hangat pemuda itu selalu merangkum tangan Adisla yang nampak pas digenggamannya. Sudah cukup Adisla menjadi tontonan satu sekolah pagi ini. Seakan tak cukup hanya menjadi tontonan umum, guru BK yang terkenal bengis tak sengaja memergoki mereka. Padahal mereka hanya bergandengan tangan, tapi setelah June melihat adanya guru, ia langsung merangkul Adisla dengan posesive. Demi Tuhan, ingin rasanya Adisla menjedotkan kepala senior tampannya itu ketembok. Kalau orang lain lebih memilih menghindari bahaya, June justru memanggil bahaya menghampiri. Ya Tuhan, Adisla ingi lenyap dari muka bumi saja. Kalau tujuan June membuatnya menderita dengan terus berada disisinya. Maka selamat! June sudah berhasil. "June, Adisla! Kalian pacaran disekolahan??" Adisla menggigit bibirnya dan menggeleng takut-takut, pupus sudah tittle-nya sebagai anak baik. June patut disalahkan dan wajib mempertanggung jawabkan ulahnya. Sekarang mereka sedang berada diruang BK. June hanya diam saja, mulutnya tak mengeluarkan sepatah suarapun. Tiba-tiba saja, pemuda itu berdiri dan menyunggingkan smirk mengerikan. Ia menarik sebelah tangan Adisla, membuat Adisla ikut berdiri. Adisla semakin takut ketika Bu Ike juga berdiri. "Adisla Yona pacar saya." Katanya dengan lancar.
All Rights Reserved
#588
posesive
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rindu Senin Pagi
  • (Not) A Dream School (On Going)
  • Rumah Sepasang Luka ✓
  • I LOVE YOU✔
  • Ideal Boyfriend [TAMAT]
  • LEITHLEACH
  • ALGRAVANO
  • MACLO [ SEGERA TERBIT ]

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines