Story cover for Expectation! by KelopakBungaa_
Expectation!
  • WpView
    LETTURE 158
  • WpVote
    Voti 38
  • WpPart
    Parti 15
  • WpView
    LETTURE 158
  • WpVote
    Voti 38
  • WpPart
    Parti 15
In corso, pubblicata il gen 04, 2019
Yang Tania tau adalah hidupnya tak seindah semua harapan yang ia bangun dalam dirinya. Betul kata orang ketika realita tak sesuai ekspektasi maka hati yang akan menjadi korbannya. 

Bagi Panji mendengar kisah orang lain dan dapat mengubah kepribadian orang dari buruk menjadi baik adalah salah satu kebahagian yang tidak bisa ia dapatkan hanya dengan modal uang.

Ada keterkaitan antara keduanya hanya saja lagi lagi tak sesuai harapan yang mereka bangun dibenak masing-masing. Satu berdiri untuk menjatuhkan yang lain padahal niat awalnya ingin saling berpegangan tangan.



Cerita ini dibuat berdasarkan ekspektasi liar sipenulis.
Maafkan jika ada kata yang tidak baik.


Sekian terimakasih
Tutti i diritti riservati
Iscriviti per aggiungere Expectation! alla tua Biblioteca e ricevere tutti gli aggiornamenti
oppure
#102marah
Linee guida sui contenuti
Potrebbe anche piacerti
Potrebbe anche piacerti
Slide 1 of 10
Memories in Moon cover
Jangan pergi (End) cover
Semesta Angkasa | Teenlit ✔ cover
Constellations From The Room cover
Stop It, Darka! [END] cover
Hampa(TAMAT)✔ cover
Senja Tanpa Jingga cover
AURORA cover
Kala Bertemu Senja cover
REGATHAN [END] cover

Memories in Moon

13 parti Completa

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?