LOVE - A Little Thing Makes me Strong

LOVE - A Little Thing Makes me Strong

  • WpView
    Reads 553
  • WpVote
    Votes 33
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 28, 2019
HU HU HU "Sudah sayangnya, mama. Jangan nangis lagi ya. Dede kan anak perempuan mama yang paling kuat." Rita mengelus rambut putri kecilnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Tapi abang bilang, kalau dengkul dede berdarah nanti om dokter datang dan potong kaki Dede Putri, ma". Senyum sang mama mengembang mendengar kekhawatiran putrinya yang masih teramat lugu itu. Dia benar - benar tidak tahu jika kakaknya, Randa sedang menjahilinya. "Enggak sayang, abang cuma bercanda sama kamu. Udah jangan nangis, kan udah mama obatin kakinya." Ujar Rita yang terus berusaha menenangkan putri kecilnya yang polos dan lugu. "RITA!!!" Teriakan itu begitu keras dan begitu sangar terdengar dari salah satu ruangan. "Hei, Rita! Apa - apaan kamu, kenapa kemeja biruku belum kamu siapin?!" Syabrudin belakangan memang selalu murka dengan apapun yang dilakukan istrinya. Entah itu salah atau tidak, tetap saja selalu salah di matanya. "Bentar ya, mas. Saya mau tenangin Putri dulu. Dia barusan jatuh, dengkulnya berdarah." Rita berusaha menjelaskan semampunya. Syabrudin justru makin murka, wajahnya merah padam. "PLAK!!!" Satu tamparan keras mendarat di wajah ibu tiga anak itu, air matanya tertahan. Ia tak ingin gadis kecil itu terpengaruh dengan pertengkaran orang tuanya. Dia memanggil anak laki - laki berusia tujuh tahun yang bermain di dekatnya sejak tadi. Tubuh anak itu seakan membeku, pucat dan nampak sekali ketakutan di wajahnya. "Bawa dede ke kamar ya!" Pria keci itu mengangguk dan segera menuruti perintah mamanya. "Jaga anak nggak becus, ngurus suami pun nggak becus. Kamu itu bisanya apa?!" Mulut kasar Syabrudin sama kasarnya dengan tangan yang saat ini menarik rambut Rita semaunya. Si sulung 12 tahun yang baru keluar dari kamarnya gemetar melihat sang mama diperlakukan seperti itu. "PAPA!! Papa kenapa mukulin mama?!" Reza berusaha melepas tangan papanya yang sedang menarik rambut sang mama. BRAK!! Reza terhempas. Inilah sekelumit kisah sebelum keluarga Randa terpisah.
All Rights Reserved
#879
psikologi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • ★BABY ZION★
  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Judul standar - ^-^ "My Teddy Bear "
  • Xyzie Andrean
  • DIANA IS MINE (COMPLETED)✔
  • Is LOVE
  • ADIKARA ELUSIF (END)

‼️F I K S I‼️ 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 (adj) : tak tergantikan 🍀🍀🍀🍀🍀 "Buat Kakak," ucap seorang wanita muda mengeluarkan sebuah amplop putih yang tercantum nama sebuah rumah sakit. "Buat aku? Rumah sakit? Kamu sakit?" tanyanya yang dibalas gelengan kepala oleh sang kekasih. Angkasa mengernyitkan keningnya, tangannya meraih amplop tersebut dan membukanya. Seketika wajahnya berubah pias seolah darah direnggut paksa dari wajahnya hingga membuat pucat sempurna seiring iris kembar legamnya menelusuri deretan kata yang tertera diatas kertas putih tersebut. "Aku hamil, Kak. Kata dokter anak kembar dan umurnya sudah 3 minggu." Seiring kalimat itu terucap, nadanya merendah hampir tak terdengar kalau Angkasa tidak memberi fokus padanya. "Gimana bisa? Senja, kita baru ngelakuin itu sekali. Enggak mungkin langsung jadi. Senja, bilang sama aku. Ini bukan anak aku kan?!" "Bukan anak kamu? Kakak nuduh aku ngelakuin itu sama orang lain, iya?" "Gak mungkin. Keluargaku gak punya keturunan kembar. Gak mungkin itu anak aku, Senja! Bilang sama aku, siapa yang udah menghamili kamu?" Setetes air terjun bebas dari pelupuk mata. Hatinya terluka begitu dalam sebab kalimat yang terucap bagaikan belati yang menyayat setiap lapisan hatinya. Senja sama sekali tidak pernah menyangka jika kalimat itu terucap dari bibir pria yang kerap kali menyatakan besarnya cinta yang dimiliki untuknya. Lantas apa sekarang? Dimana rasa cinta yang selalu digaungkan di telinganya itu? Bahkan Senja mendadak kehabisan kata. Senja seperti tak mengenal sosok didepannya. Asing. "Gugurin. Kalau kamu masih cinta sama aku, gugurin. Aku bakalan tetap menerima kamu asal kamu gugurin kandungan kamu." Kalimat terakhir yang Senja dengar sebelum kaki jenjangnya membawa tubuhnya melangkah pergi dari hadapan pria yang dicintainya itu tanpa ada niatan menoleh sedikitpun ke belakang meninggalkan Angkasa yang masih diam seribu bahasa tanpa berniat mengejarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines