Dream: 꿈 (kkum)

Dream: 꿈 (kkum)

  • WpView
    Reads 2,295
  • WpVote
    Votes 166
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 4, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Tepat dua tahun yang lalu kita bertemu untuk pertama kalinya. Saat itu kita tidak saling mengenal, tidak bisa bercanda bersama, Bahkan kita tidak saling bercengkrama satu sama lain. Namun seiring berjalannya waktu, kita mengesampingkan sifat egois kita. Dan hasilnya sangat memuaskan, kita jadi sedekat ini. Saking dekatnya, kita sudah seperti manusia dengan oksigen, tidak bisa dipisahkan. Namun, murid baru datang menghampiri kita. Kita kembali seperti dulu lagi. Sifat egois kita kembali muncul. Kita sudah tidak lagi seperti manusia dengan oksigen, melainkan seperti benalu dengan inangnya, hanya memikirkan diri sendiri. Akankah kita bisa mengatasi masalah ini? Atau kita hanya akan memperburuk keadaan? © 2020, CBL Entertainment (DinnerMate)
All Rights Reserved
#740
fiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Behind The Smile (TERBIT)
  • Sampai Kita Jadian - Love on Repeat
  • Someone in the viewfinder
  • Cinta? RASAIN SENDIRI
  • Untuk Oreo dan Kamu [OG]
  • Let Me Love You Longer
  • Berandalan
  • I'm okay (END)
  • FIZYA
  • Double B (Revisi)

| Self discovery | Family & Relationship| slice of life | coming of age | "Behind The Smile" Di balik tawa dan vibes ceria, siapa yang nyangka ada luka yang nggak kasat mata? Ini cerita tentang tiga anak muda yang hidup bareng di satu tempat, tapi masing-masing punya "baggage" hidup yang berat banget buat diomongin. Ada yang struggle banget karena nggak pernah dapet support penuh dari keluarga, terutama soal pendidikan. Komentar negatif dari orang sekitar bikin overthinking nggak kelar-kelar. Ada juga yang tumbuh di keluarga broken home, dipaksa ngikutin mimpi orang tua yang nggak nyambung sama passion-nya. Kasih sayang? Nihil. Dia cuma bisa bertahan karena nggak punya pilihan lain. Terus ada lagi yang mentalnya udah remuk karena sering dibandingin sama saudara atau orang lain. Support emosional dari keluarga? Jangan harap. Mereka keliatan fine di luar, senyum terus, ketawa terus. Tapi di balik itu? Mereka lagi perang sama diri sendiri. Pas hidup makin kerasa toxic dan jalan keluar nggak kelihatan, apa mereka bisa nemuin power buat bangkit lagi? Let's find out their journey-raw, real, and relatable banget dalam "Behind The Smile"

More details
WpActionLinkContent Guidelines