Story cover for IDOL [TAMAT] by mey_noona
IDOL [TAMAT]
  • WpView
    Reads 7,554
  • WpVote
    Votes 1,112
  • WpPart
    Parts 46
  • WpView
    Reads 7,554
  • WpVote
    Votes 1,112
  • WpPart
    Parts 46
Complete, First published Jan 07, 2019
[Selesai]

Menggapai hal yang sejak dulu ia perjuangkan dengan bantahan, larangan dari sang ayah tak membuat seorang Dean menyerah akan mimpinya menjadi penari yang disukai banyak orang. Jalan yang tak mulus karena tak ada restu dari sang ayah, tetap Dean jalani dengan semestinya. Anak baru yang bisa membantah semua perkataan dari mulutnya tiba-tiba muncul di sekolah mereka. Seakan tidak kenal takut, gadis bernama Kaiya itu malah suka sekali membuat keributan jika bertemu dengan Dean. Namun, hal itu lah yang membuat kehidupan Dean yang penuh dengan warna hitam berubah perlahan menjadi berwarna.

                                     °°°


Menggapai sesuatu yang diinginkan, ternyata tak semudah itu dilakukan oleh Dean. Bertemu dengan gadis yang selalu marah jika bertemu dengannya, adalah hal baru di kehidupannya. Gadis itu, Kaiya Natasya, keajaiban baginya. ~Dean Stya Lintang

Mengenalnya, membuat hari-harinya menjadi penuh amarah, awalnya. Tapi, ternyata ada sesuatu yang membuatnya ikut terusik, dan ingin terus berada didekatnya. ~Kaiya Natasya
All Rights Reserved
Sign up to add IDOL [TAMAT] to your library and receive updates
or
#4chaeyoungtwice
Content Guidelines
You may also like
BUMANTARA by wlnnura26
14 parts Complete
PLAK!!! Suara tamparan keras yang menghantam pipi seorang gadis yang tengah meringkuk di atas dinginnya lantai toilet. Gadis itu tak melawan, dia hanya diam sambil menatap nanar pada lantai, dia Naya Rivera. "ANJ**G! gak guna lo!" maki seorang siswi itu, sambil sesekali menendang tubuh gadis malang itu. "Maaf." ucap Naya itu dengan nada bergetar, hanya kata itu yang bisa dia ucapkan di balik rasa takutnya. Cih! Bukannya merasa kasihan, siswi itu malah semakin membabi buta dengan menarik keras rambut Naya, lalu mencengkram kuat-kuat rahang Naya. "Apa? maaf lo bilang?! Kata maap lo gak cukup buat nilai tugas gue jadi 100 tolol! Dasar anak pelac*r!" keras dan tidak tahu rasa terima kasih, itulah Rossalia Maharani. Menjadikan Naya sebagai budak untuk mengerjakan semua tugasnya. Naya memang terkenal akan sifat lugu serta kepintarannya, dan Rossa berpikir bahwa mengapa dia tidak memanfaatkan itu semua bukan? Tuntutan akan keluarga Rossa, yang menekan anaknya untuk menjadi yang paling utama dalam hal apapun, apalagi masalah prestasi di sekolahnya. Bagi Naya, sekolah ataupun rumah itu sama saja, iya sama saja tempat yang menyakitkan. Disaat orang lain merasakan rumah menjadi tempat ternyaman, namun itu tidak berlaku bagi Naya. Tamparan bahkan pukulan sudah menjadi bagian yang Naya dapatkan setiap harinya. Tak ada yang menyayanginya, tak ada yang mampu mengerti keadaannya, tak ada seorangpun. Ibu nya? Tidak, dia sama saja seperti orang lainnya. Teman? itu apa lagi, Naya sama sekali tidak mempunyai teman. "Mana ada orang yang mau berteman dengan orang udik seperti saya" pikiran itu yang selalu tertancap keras di pikirannya. Apakah Naya mampu melawan setiap kesedihan nya? Akankah Naya merasakan kebahagiaan seperti yang orang lain rasakan?
You may also like
Slide 1 of 9
SUARA BIA (TAMAT) cover
Let Me Love You Longer cover
Rewrite My Heart [TERSEDIA DI GRAMEDIA] cover
School Wala Love [Ongoing] - { JJk } cover
Oranye Di Langit Senja cover
JANJI YANG TAK SEMPAT DITEPATI cover
Semesta Ingin Aku Bagaimana (?) cover
The End of Keyra's Revenge cover
BUMANTARA cover

SUARA BIA (TAMAT)

47 parts Complete

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️