Akhir Senja Yang Memilukan (End)

Akhir Senja Yang Memilukan (End)

  • WpView
    LECTURAS 124
  • WpVote
    Votos 13
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadConcluida mar, ene 15, 2019
Alika menanti Rendra disetiap senja. Menunggu dibawah pohon kenangan. Menanti sejak 2 tahun lebih. Alika lama menanti sendiri. Hingga Rendra kembali, hanya membuat Alika sakit hati. Senja waktu itu membuatnya benar-benar sendiri. Senja itu Sungguh membuatnya begitu menyedihkan dan memilukan. Apa yang membuatnya begitu menyedihkan dan memilukan? Yuk simak ceritanya. Silakan dibaca☺
Todos los derechos reservados
#277
berpisah
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Aluka (Proses Penerbitan)
  • SENJA TERAKHIR[Hiatus Sementara]
  • ALASKALETTA
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • Telaga Imajinasi [Kumpulan Cerpen]
  • Shena Aquella {SELESAI}.
  • RENJANA DERANA [END]
  • Sayat-Sayat Luka [Complete]
  • 1001 Luka [On Going]

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido