Mengalir Bersama Taqdir

Mengalir Bersama Taqdir

  • WpView
    Reads 125
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 14, 2019
Wanita selalu saja seperti itu, menangis kala bersedih bahkan ketika bahagiapun tetap menumpahkan air mata yang menjadi pilihannya. Persis sepertiku, hingga seakan air pada bendungan mata telah kering bak kemarau beberapa bulan lalu. Hari ini, Sabtu di awwal desember, hujan pertama dan bukan hujan permata, sejuk, bertolak belakang dengan keadaan hatiku. Kukira hujan turun memuarakan oase namun mentari lebih ego dengan teriknya, Menyayat hingga ulu jiwa. Ada yang lucu dari hujan hari ini, Lihatlah! Hujannya di luar namun pipi di dalam ruangan berhias mawar warna-warni inipun ikut basah. "Apa yang kamu lihat,Na? Apa yang kamu tangisi?" Kutundukkan kepala, memeluk hati yang semakin lara, menyadari bahwa rinduku tak lagi dirindui, cintaku tak lagi berguna. Palung-palung jiwa seakan retak tersapu ombak, terjerat dalam kejahilan angan, terperosok dalam kubangan kemajnunan mendambai kemungkinan yang kini tak lagi mungkin. Hari ini, hikayat lama itu telah tamat, dengan ending yang tidak tepat dengan harapan yang lama tertambat. Hati, utuhlah kembali. ******* السلام علیکم و رحمة الله، Sahabat wattpad. Semoga berkenan membaca cerita sederhanaku ya. Aku bukan penulis. Hanya saja menulis adalah hobi yang seringkali bisa mengobati kejenuhan menghafal dan muthola'ah kitab-kitab kuning tanpa harokat. Salam hangat dariku, InayNH. ~Tanggapannya yaa😊
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • »The Love Behind Secrets!
  • BUNGA KEMBALI
  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • The Fate Of My Life (END)
  • Broken

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines