Mengalir Bersama Taqdir

Mengalir Bersama Taqdir

  • WpView
    Reads 127
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 14, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Wanita selalu saja seperti itu, menangis kala bersedih bahkan ketika bahagiapun tetap menumpahkan air mata yang menjadi pilihannya. Persis sepertiku, hingga seakan air pada bendungan mata telah kering bak kemarau beberapa bulan lalu. Hari ini, Sabtu di awwal desember, hujan pertama dan bukan hujan permata, sejuk, bertolak belakang dengan keadaan hatiku. Kukira hujan turun memuarakan oase namun mentari lebih ego dengan teriknya, Menyayat hingga ulu jiwa. Ada yang lucu dari hujan hari ini, Lihatlah! Hujannya di luar namun pipi di dalam ruangan berhias mawar warna-warni inipun ikut basah. "Apa yang kamu lihat,Na? Apa yang kamu tangisi?" Kutundukkan kepala, memeluk hati yang semakin lara, menyadari bahwa rinduku tak lagi dirindui, cintaku tak lagi berguna. Palung-palung jiwa seakan retak tersapu ombak, terjerat dalam kejahilan angan, terperosok dalam kubangan kemajnunan mendambai kemungkinan yang kini tak lagi mungkin. Hari ini, hikayat lama itu telah tamat, dengan ending yang tidak tepat dengan harapan yang lama tertambat. Hati, utuhlah kembali. ******* السلام علیکم و رحمة الله، Sahabat wattpad. Semoga berkenan membaca cerita sederhanaku ya. Aku bukan penulis. Hanya saja menulis adalah hobi yang seringkali bisa mengobati kejenuhan menghafal dan muthola'ah kitab-kitab kuning tanpa harokat. Salam hangat dariku, InayNH. ~Tanggapannya yaa😊
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku, Kamu dan Hujan
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • »The Love Behind Secrets!
  • The Fate Of My Life (END)
  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • Setelah Hujan ( End ✔)
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Mahligai Sunyi

Hari ini hujan turun dengan deras. Awan sangat hitam, petir saling menyahut, sama seperti hati ku saat ini. Cuaca ini sangat mewakili hati dan perasaanku, kelabu. Aku berjuang untuk nya, tapi dia tidak. Aku hanya ingin mengambil perhatian nya supaya dia suka padaku. Tapi dia, hanya sebatas menghargai ku saja dan tanpa ada niat untuk membalas perasaanku. Ohhh, itu sangat menyakitkan bagi ku. Dia berkata memiliki rasa yang sama, tapi aku tidak pernah melihat keyakinan dari matanya. Aku hanya bisa berjalan dan menangis karna perjuangan ku tak di hargai,lelah rasanya berjuang sendiri. Sampai di pertengahan kota, aku melihat seorang lelaki membawa payung dan tersenyum hangat yang membuat ku tersipu malu. Dia mengajakku ke rumah nya. Awal nya aku curiga dan merasa was-was kepada lelaki tersebut. Tapi entah aku merasa ingin mengikutinya dan ada dorongan dari mana aku ingin mengikutinya. Ahh, dia menggenggam tanganku yg membuat ku tak bergerak sama sekali, hanya mengikuti langkah nya. Dan sampai di ujung jalan, ada satu rumah yg berbentuk hati. Aku terkejut melihat nya, dia mengajak ku masuk untuk menghangatkan badan dan membilas diri karna aku sangat basah. Sudah berjalan beberapa hari, dia sangat perhatian dengan ku, ia memberikan semua yang sebelum nya belom pernah aku rasakan. Aku merasa berwarna kembali dan tersenyum untuk kesekian kalinya. BTW, itu kata perumpamaan yaa guys. Manaada rumah berbentuk hati, halu deh haha:v Awas typo bertebaran! Cerita pertama di akun ke2🤗 Semoga kalian suka. @_diana283

More details
WpActionLinkContent Guidelines