Kia dan Shilla

Kia dan Shilla

  • WpView
    Reads 601
  • WpVote
    Votes 69
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 16, 2020
Ternyata ada hal yang tidak bisa dipecahkan oleh pelajaran. Orang-orang menyebutnya rasa, Hal tak kasat mata yang mudah terbolak-balik alurnya. "Kia langit, Gue bintang dan Ari bulannya. Jadi wajar Kia lebih sering melihat ke arah Ari daripada gue. Karena gue cuma salah satu dari berjuta bintang di sekitarnya...." ucap anan "Rumit banget sih kisah gue kak. Deket, tapi ga terikat. Udah gitu tiba-tiba dateng si mahkluk astral dikehidupan gue yang ngebuat gue sendiri gangerti dia itu modus atau serius. Pfttt" Desis Shilla
All Rights Reserved
#177
cintadisma
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Parachma [END]
  • SELENOPHILE : RED MOONBOUND
  • Kelas A [End]
  • FRIENDzone (Completed)
  • Masa SMA [Completed]
  • LOST MY BREATH (ON GOING)
  • True Life, True Love ☘︎ (𝐶𝑜𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑒𝑑)
  • [END] Blind Rainbow
  • Cinta Di Anak Pramuka

"Kita kan sering ketemu Ra, ibarat kata kita udah biasa bareng berdua. Jadi bisa aja kan ada perasaan special yang timbul." Ucap Pandu. Rachma hanya diam sibuk mencerna apa yang dikatakan Pandu barusan, entah malam ini otaknya terasa sangat lambat untuk menerima percakapannya dengan Pandu. "Kita sama-sama dewasa Ra, jadi nggak mungkinkan aku mau main-main sama kamu. Udah bukan waktunya lagi." Imbuh Pandu lagi. "Mas Pandu?," panggil Rachma. Pandu menengok kearahnya, melihat lekat kearah mata hitam nan indah itu dengan lembut. "Jangan bilang iya kalau akhirnya enggak, jangan janji kalau nantinya nggak bisa menepati." Ucap Rachma sendu. "Aku nggak pernah main-main sama ucapan aku Ra, sekalinya aku sayang nggak bakal aku lepas. Walaupun ada yang menentang sekalipun." Tegas Pandu. Malam ini bintang serta cahaya rembulan menjadi saksi antara mereka berdua, membangun komitmen memang tak pernah semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada kepercayaan, komunikasi, serta pengertian yang luas dan dikehendaki keduanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines