Story cover for THAT TIME by Clatelup
THAT TIME
  • WpView
    LECTURES 12,516
  • WpVote
    Votes 902
  • WpPart
    Chapitres 29
  • WpView
    LECTURES 12,516
  • WpVote
    Votes 902
  • WpPart
    Chapitres 29
Terminé, Publié initialement janv. 13, 2019
Waktu adalah segalanya. 

Ibarat 2 sisi koin, waktu bisa menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan hati seseorang. Tapi Waktu juga bisa menjadi penyakit yang paling mematikan. Tergantung kepada siapa pemilik waktu tersebut. Bagaikan 2 sisi bilah pedang, Waktu bisa melindungi diri dan menyerang seseorang. Seperti waktu yang berlalu disebut kenangan. Maka harapan adalah waktu yang akan datang. Di antara itu, seseorang masih terjebak dalam kenangan dengan harapan masa depannya tidak akan berubah. Mengurung diri dalam kenangan manis dan membiarkan waktu mengambil kesedihan serta kepedihannya. Waktu yang dia punya sebagai seorang anak. Waktu yang dia punya sebagai seorang teman, sahabat maupun saudara.
Waktu yang dia genggam begitu erat hingga tanpa sadar menyakitinya perlahan, membunuhnya pelan-pelan dari dalam. Jadi, sekalipun itu berdarah dia tetap menggenggamnya karena percaya waktu akan menyembuhkan lukanya. Sedangkan waktu yang dia miliki terbatas. Apakah waktu yang dia jaga dan percayai selama ini akan mewujudkan semua harapannya? Ataukah justru dia yang harus mengorbankan semua waktu yang dimilikinya??
Tous Droits Réservés
Inscrivez-vous pour ajouter THAT TIME à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
#7sungyeol
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
Everything Between Us (ON GOING), écrit par Lifeofzyailomiloxx
14 chapitres En cours d'écriture
Dia tidak pernah membayangkan akan terjebak di persimpangan seperti ini-terombang-ambing antara dua hati yang begitu berarti dalam hidupnya. Di satu sisi, ada sahabatnya, seorang yang telah bersamanya sejak kecil. Seseorang yang begitu mengenalnya, yang tahu segala kelemahan dan kekuatannya, mereka seperti dua jiwa yang tak terpisahkan. Namun, di sisi lainnya, ada dia-pria yang diam-diam telah mencuri hatinya. Tanpa sadar, dia telah menjadi pusat dari setiap angan dan lamunan yang selama ini ia pendam dalam diam. Seharusnya, persahabatan dan cinta tak perlu menjadi pilihan. Seharusnya, ia bisa memiliki keduanya tanpa harus mengorbankan salah satunya. Namun kenyataan tidak sesederhana itu. Kini, ia dihadapkan pada fakta pahit bahwa sahabatnya, orang yang selalu ada untuknya, juga menyimpan rasa yang sama-cinta yang tumbuh tanpa mereka sadari, dan kini mengguncang keduanya. Hatinya berperang dalam sunyi. Haruskah ia mengalah, mengubur cintanya dalam-dalam demi menjaga persahabatan yang telah bertahun-tahun terjalin? Atau, apakah ini saatnya ia memilih untuk menjadi egois, memperjuangkan cinta yang kini memanggil namanya, meski resikonya adalah kehilangan seseorang yang selalu ada di setiap langkahnya? Ini adalah kisah tentang pilihan yang berat, tentang kehilangan yang tak terhindarkan, dan tentang keberanian untuk menghadapi perasaan yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Siapa yang akan ia pilih? Dan apakah ada pilihan yang tidak akan meninggalkan luka bagi mereka semua? "Between love and friendship, there's pain, hope, and unspoken feelings" ~ Everything Between Us ~
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 9
Breathe cover
2 Reflection cover
Rêverie cover
WITH YOU?! END√ cover
[END] WHAT WE HAVE PASSED TOGETHER? cover
Garis Bintang 엑 소 EXO ✔ cover
I'll Show You 4 cover
Everything Between Us (ON GOING) cover
The Path of Destiny (On Going) cover

Breathe

59 chapitres Terminé

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-