We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
KARAMEL
  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 17, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Tentang seseorang yang enggan untuk menerima, memilih untuk mengacuhkan, mengabaikan, menghiraukan dan mendiamkan. Mencintainya selama kurang lebih 2th belakan ini membuatku semakin di tusuk ribuan besi takkasat mata. Apa salah dengan usaha? Usaha yang ku buat burukkah di mata-mu? Atau aku memang tidak pantas denganmu? Bagaimana dengan perjuanganku? Bertahan atau menetap? Atau mungkin memilih pergi ke hati baru untuk sekedar penenang? Jadi aku harus bagaimana? Sikapmu semua bertolak belakang. Pernahkah aku berada di pikiranmu. Ada dalam sekelebat dan menerusuknya masuk kesela-sela hati dimana kau bisa menganggapku. Bila hatiku sudah tidak memilihmu apa yang kau lakukan? Ahh ... aku berharap kau akan menyesal tidak melirikku dan kembali kepadaku tapi apa itu tidak mungkin bukan?. ____ Aku sombong apapun itu aku tidak peduli hanya saja aku memilih dari yang terbaik. Mengetahuinya tidak lagi memperjuanganku membuat hari hari tampak serasa seoalah olah di tutupi awan hitam.
All Rights Reserved
#349
manis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Black Rose
  • Plot Twist - Hartono's Fam [END]
  • Si Sabes (IYK 1)
  • Aku, Kamu dan Hujan
  • Pelakor? Yes, I'm! (BOOK 1)
  • Step Backward
  • Dua Sisi Bima
  • flashback~
  • Senja Yang Tak Kembali
  • Backstreet: Life After Breaking Up

"Nanti siang Sarah datang. Dia ingin bermain bersama kakaknya." La Lembah memandang pesan singkat di layar ponselnya. Seperti ada yang menaburkan bubuk cabai di kelopak matanya, tetapi air matanya sudah terlanjur kering sejak lama. "Saya anak tunggal." Ketik Lembah. "Jangan egois. Dia adik kamu." Tawanya terdengar, tetapi bukan tawa bahagia seperti yang diharapkan semua orang. Tawa menyakitkan yang syarat akan kesakitan. "Dia anak papa, bukan adik saya." "Berkali-kali saya ingatkan, La Lembah adalah anak tunggal. Tidak punya saudara, termasuk adik dan juga kakak." "Dia anak papa, berarti juga adik kamu." "Dia memang anak papa, tapi bukan adik saya." "Bahkan jika bisa, saya ingin berhenti menjadi anak Anda." Matanya perih, tetapi tak ada satu tetes pun yang ke luar dari sana.

More details
WpActionLinkContent Guidelines