thirty hour for imagine our future

thirty hour for imagine our future

  • WpView
    Reads 181
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 25, 2019
Saat semua yang terlihat hanya sebagai angan, bisakah kita wujudkan untuk masa depan? Disini, ku mulai lagi merajut benang-benang mimpi yang telah lama ku tinggali. Ku rekatkan lagi retakan yang sudah terlihat celah disana-sini. Semoga langkah ini membuahkan hasil. "30-prompt writing challenge" -trpst (14 Januari 2019 )
All Rights Reserved
#203
writing
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Break The Sand Castle
  • Kekuatan dari Sebuah Kepercayaan
  • Time Capsule - NPC's 30 Days Writing Challenge [END]
  • RESURGERE: The Andalas Of Nusan [CH]
  • CAKRA ATMA: 30 Daily Writing Challenge NPC 2019 ― ⌠selesai⌡
  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • BUN𝖦A PRIBUΜI |ᴅɪғғᴇʀᴇɴᴛ ʙʟᴏᴏᴅ| [END]
  • Warna Kehidupan
  • Menulis Itu Menyenangkan [Complete]
  • Age Quod Agis

Berjalan dalam kelambatan, terasa dekat namun tak tergapai. Bagai teman yang begitu jauh, awan-awan menemani walau dia nyatanya akan hendak pergi. Menyampuri awan-awan lainnya di area lain, meninggalkannya usai mewarnai biru di angkasa. Bagai perumpamaan yang menyedihkan, dia hendak memohon agar semua kepergian itu tidak terkabulkan. Geresak runtuhan cat hitam besi-besi setengah berkarat menempeli seragamnya ketika dia bangkit. Menoleh ketika rangkaian suara dentangan melangkahi atap hitam, dari rangkaian tangga dinding dekat pintu diantara sambungan dua gerbong disana, dia melihat pemuda bersurai hitam, setengah panjang namun tak terurus, hanya sedikit basah. Matanya sayu namun tajam, tubuhnya tak besar namun menjulang tinggi. Mengenakan seragam yang serupa, tanpa sebuah syal walau dia tahu Desember akan segera menyapa. Dia menatapnya, pemuda itu sibuk pada pandangan dihadapannya. "Ada yang kurang, ya." Taehyun tak ingin menjawabnya, namun Beomgyu mencelanya tepat masuk di hati dengan perkataan. Bagai satu gambaran puzzle yang tak terselesaikan dikarenakan potongannya yang lenyap, Taehyun tak merasakan kesempurnaan yang puas didalam benaknya. "Kalau begitu ... Masa lalu itu bagai salju." Sahut Beomgyu. "Kau bisa mulai untuk melupakannya ketika kau tahu bila dia itu nyatanya sudah bagai salju." Salju tak abadi. Taehyun tahu. . . . . . [Kastil Dimana Aku mengharapkan Semua Termasuk Sosok yang Kuharapkan di Gerbang Sana] Fanfiction [Fiksi Penggemar] [Friendship] Hanya karya fiksi semata dan tak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Dan lagi, abal-abal dari amatiran. [Made: 25/06/2021] [Book: 27/06/2021] [Published: 03/07/2021] Ongoing

More details
WpActionLinkContent Guidelines