Teman A
  • WpView
    Reads 439
  • WpVote
    Votes 68
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 27, 2021
"Kamu cantik kalau dilihat dari dekat, makanya jangan jauh jauh, nanti kangen" -Teman A Warn, This's Original Character! Umur dan tingkatan (antara yang lebih muda/tua) cast tidak sesuai dengan di real life Ara, seorang gadis biasa yang kebetulan memiliki sahabat dengan kemampuan indigo yang terkadang dengan seenak jidatnya menunjuk ia sebagai alat untuk membantu para ruh yang sedang tersesat di bumi. Ini menyebalkan -awalnya- karena ruh itu sering menampakkan diri dengan wujud mengenaskan dan Ara membenci hal itu. Namun, seiring berjalannya waktu ia mulai menyukai kegiatannya itu, ia jadi memiliki banyak kenalan dan pengalaman menarik. Kisahnya yang semula hanya membantu ruh itu semakin menarik saat ternyata sahabatnya-Fia-justru mengenalkannya pada seorang lelaki, anak SMA akhir yang membuat harinya lebih berwarna. Tapi semakin lama terasa ada kejanggalan pada lelaki yang kerap disapa Teman A itu. Pasalnya, Teman A tak pernah menjelaskan dirinya secara lengkap, hanya sedikit perkenalan dari pertemuan yang singkat, ditanya pun pria itu tidak akan menjawab. Ara jadi ragu, apa Teman A-nya itu manusia?
All Rights Reserved
#214
tbz
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • It's Always Been You✔️
  • WHEN SPRING COMES AGAIN ( END )
  • Kesempatan Kedua
  • DESTINY [Sudah Terbit]
  • Luv Me : ephemeral
  • PESAN UNTUK RAYAN
  • Where My Brother? [FF TwicExo]
  • Nephilim
  • || Save Me ||

Winter, gadis skater serba bisa dari Thunder Clan, merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika papanya tiba-tiba meminta, atau lebih tepatnya memaksanya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga teman orang tuanya. "Kalau adek nggak mau, papa bakal bakar semua deck yang rapi tertata di kamar adek sampai jadi abu." Ancaman itu langsung menusuk hati Winter. Deck-deck itu bukan sekadar papan luncur. Mereka adalah bagian dari dirinya, saksi setiap kompetisi dan penopang semangatnya. Mana mungkin ia membiarkannya jadi korban amukan sang papa? Dengan terpaksa, ia pun menyanggupi pekerjaan itu meski artinya harus membagi waktu antara kuliah di Universitas Kwangya dan mengurus rumah keluarga majikannya. Merawat empat anak di rumah itu sebenarnya bukan tantangan besar untuk Winter. Ia bisa dengan mudah mengatasi kelakuan si kembar usil, Jisung dan Ningning yang berusia tujuh belas tahun, juga kepolosan Sakuya yang berusia sebelas tahun dan si kecil Ian yang baru enam tahun. Semua terasa terkendali kecuali satu hal: Jaemin, si sulung yang tampaknya menjadikan Winter sebagai target utama untuk mencari-cari kesalahan. "Bener kamu jago masak? Yakin nggak bakal mati kalau makan masakan kamu?" "Otaknya pinter atau nggak sih? Sayang banget masa muda kebuang percuma. Kamu nggak minat nyambung kuliah?" "Baru pagi-pagi aja udah ngilang. Kamu ke mana emang?" Sumpah, kalau saja Jaemin bukan anak majikannya, Winter sudah lama melibas pria itu dengan deck kesayangannya. Menyebalkan bukan main. Namun, di balik semua adu mulut dan tatapan sinis itu, ada sesuatu yang samar. Perasaan yang pelan-pelan menyusup, tapi tak mungkin mereka akui. Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa sekaligus satu-satunya gadis di Thunder Clan, mampukah Winter bertahan menghadapi kelakuan Jaemin yang seakan bisa meruntuhkan dunia? Dan apa yang akan terjadi ketika Jisung, Ningning, Sakuya dan Ian mulai menganggap Winter sebagai kakak mereka sendiri?

More details
WpActionLinkContent Guidelines