Savitri Satyawan : Kisah Cinta Yang Merubah Takdir

Savitri Satyawan : Kisah Cinta Yang Merubah Takdir

  • WpView
    Reads 292
  • WpVote
    Votes 37
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 31, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Savitri, Janganlah engkau sesekali berbohong kepada siapapun, karena seseorang yang suka berbohong itu merupakan tanda bahwa dia belum mengenal jati dirinya dan meremehkan Gustinya" Dengan nafas yang terpenggal-penggal Satyawan mencoba memberikan pesan terakhirnya kepada Savitri yang sedang meneteskan air matanya dan jatuh membasahi keningnya Satyawan. "Savitri pesan terakhirku pada dirimu adalah, jika engkau tersakiti jangan pernah membalas dengan menyakiti, cukup engkau yang tersakiti jangan sampai orang lain tersakiti. Jika kau ingin membalasnya balaslah dengan senyuman. Sekarang tersenyumlah Savitri." Satyawan memegang pipi Savitri yang halus serta hangat agar dia tidak bersedih dan tetap tersenyum, yang dipegang membalasnya dengan memegang erat tangan yang menyentuh pipi. Savitri mencoba tersenyum demi suaminya yang dicintai. Melihat sang istri telah tersenyum Satyawan ikut tersenyum pula. Update Setiap Selasa.
All Rights Reserved
#37
wayang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eternal Bond
  • Kisah Ku
  • Lentera di Batas Senja (TELAH TERBIT di LOVRINZ)
  • Kita Beda Tuhan [TAMAT]
  • Bukan Sebab Cinta Ditolak
  • Welcome My Happiness
  • Stronger Than Another
  • Tembok Yang Sangat Tinggi. (On Going)
  • DUNIA FLORA

"Jika dunia melupakan kita... apakah kau masih akan mengingat?" "Biarpun seiring waktu hancur dan semesta mulai berubah, akan tetap mencarimu, bahkan jika yang tersisa dariku hanyalah bayangan tanpa nama." "Dan jika aku mati sebelum bertemu lagi?" "Maka biarkan rohku menjelajah setiap waktu... sampai takdir menebus janji kita." Mereka pernah bersumpah di ujung kehancuran, di tengah hujan darah dan nyala api, bahwa jika dunia memisahkan mereka, maka mereka akan memaksa takdir untuk bersatu kembali. Sekarang, di antara ruang dan waktu yang telah terbelah, dua jiwa itu masih mencari. Tak saling mengenal, tapi saling merasa. Dan saat tali merah kembali tertarik oleh nasib, dunia harus memilih. Dua jiwa atau kehancuran berikutnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines