SUNSET

SUNSET

  • WpView
    Reads 224
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 29, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Matahari sudah berada di ufuk barat tak lama lagi akan tenggelam. Dan sunset kini sudah muncul dengan warna kemerah-merahannya. Sangat indah buat di pandang. Kania duduk di tepi pantai melihat sunset. Bibirnya melengkung mengukir senyum. 'Seandainya elo ada disini mungkin sunset itu akan lebih indah'batin Kania. Tak lama dari itu ia tersenyun kecut. "Jangan ngarep deh, Kani. Elo sendiri yang ninggalin dia tapi kenapa elo malah harapin dia ada di samping elo? Parah elo, Kani"Kania memukul jidatnya. "Jadi masih ngarep nih?"tanya seseorang dari belakang Kania. Kania pun langsung membalikkan badannya dan matanya langsung melihat siapa yang ada di belakangnya. "Elo...."tak terasa air mata Kania menetes melihat sosok itu.
All Rights Reserved
#272
coolboy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)
  • Cuaca
  • JANJI YANG TAK SEMPAT DITEPATI
  • APAKAH INI TAKDIRKU??
  • LUKA BIASA GADISKU
  • Di Antara Dua Dingin
  • LDR (Logika Dalam Rasa)
  • Felicity [On Going]

Tepat di depan mata. Raiya seakan membeku disana, matanya nggak terlepas dari mobil yang baru saja terlempar tepat di depannya. Entah kenapa keadaan seolah semakin mendramatisir, hujan turun dengan derasnya sore itu, memadamkan api yang berasal dari ledakan mobil di depannya. Suara sirine ambulans saling bersautan dengan suara sirine mobil polisi, keadaan semakin kacau. Beruntung, yah Raiya bersyukur seseorang yang berada di dalam mobil itu sudah diselamatkan sebelum mobil meledak. Dan seketika itu pula, tubuh Raiya langsung limbung terjatuh begitu saja, isakan tangisnya semakin jelas terdengar meski di bawah guyuran hujan. Satu patah kata pun nggak bisa terucap, ingin sekali dia menghampirinya yang sudah berada di mobil ambulans, tapi kakinya masih saja membeku di tempat. Hanya sesak yang terasa. "Kak Chi-ko ...." "Dia nggak akan kenapa-kenapa! Ayo Ray, gue anter pulang sekarang!" ajak paksa seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di belakang Raiya, tapi Raiya hanya bergeming. Seseorang itu samasekali nggak menduga kalau hal semacam ini akan terjadi. Liontin yang ada di genggamannya seketika terlepas begitu melihat mobil lamborgini hitam yang sangat dia kenal terlempar begitu saja di depan Raiya. Dia dekap Raiya ke pelukannya, menatap nanar ke mobil yang sudah nggak berwujud itu. Hanya satu yang ada di pikirannya saat itu, penyesalan. "Kak Chiko, itu Kak Chiko, nggak, nggak, itu bukan Kak Chiko, pasti itu bukan Kak Chiko, dia bukan Kak Chiko!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines