Tiara
  • WpView
    Membaca 11,745
  • WpVote
    Vote 1,584
  • WpPart
    Bab 32
WpMetadataReadDewasaBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Apr 12, 2020
Bukan kisah romantis layaknya Habibi dan Ainun. Bukan kisah antara seseorang yang berbeda dunia layaknya Ariel dan seorang Pangeran yang diimpikannya. Bukan juga kisah yang penuh drama layaknya Romeo dan Juliet. Hanya kisah sederhana antara Willis dan Tiara. Tentang mereka berdua yang harus merelakan seseorang yang dicintainya pergi. Dan tentang meyembuhkan luka di masa lalu "Untuk yang merasakan apa yang namanya kehilangan. Belajarlah untuk mengikhlaskan. Karena, pada akhirnya kamu akan bahagia dengan seseorang yang bisa membuat pelangi setelah badai." ©️chandra, 012419
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Salah Status
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan