Until The End

Until The End

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 18, 2019
"Setelah itu, aku hanya mengamati mu dari kejauhan. Memastikan bahwa dirimu baik-baik saja. Dan selamanya menjaga sesuatu yang mungkin engkau ragukan." - Afrizal "Setelah itu, aku melupakannya. Jarak dan waktu berhasil mengubahnya. Kini aku menjadi diri yang baru. Dan memulai hidup yang baru." - Almeera Ada cinta yang melepaskan dan meninggalkan, namun ternyata ada yang tetap tinggal dan menjaga sebuah kepercayaan yang dulu pernah diucapkan. Di sisi lain ada yang tidak mengetahui, bahwa cinta mereka yang dulu dibawa sampai akhir batas waktunya.
All Rights Reserved
#2
bataswaktu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Red String
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Jeda Rasa Yang Tak Mereda
  • Dia yang Tertulis di Lauhul Mahfuz
  • Aku Kamu Dan Dia
  • Berlabuh di Takdir-Nya
  • Be Present and Stay
  • Promise(JENLISA)
  • [1] LDR ➡ IDR ✔

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines