8 parts Ongoing Di antara hamparan langit surgawi, ada satu nama yang jarang sekali dipanggil dalam doa, Lian Hua, sang Dewa Bayangan Alam.
Tak banyak manusia yang mengenalnya, bahkan para dewa pun sering lupa bahwa ia masih menjaga penjuru dunia. Tugasnya sederhana namun sunyi: menuntun roh-roh yang tersesat agar menemukan jalan pulang.
Ia bukan dewa perang, bukan pula dewa kemakmuran. Ia hanyalah penjaga di antara terang dan gelap-bayangan lembut di bawah kelopak teratai putih.
Namun Lian Hua tak pernah mengeluh atas pangkatnya yang kecil.
Bagi dirinya, melihat satu jiwa tersenyum tenang sebelum lenyap ke alam baka sudah cukup menjadi anugerah. Lembut, tenang, dan penuh welas asih, itulah dirinya.
Sebuah ketenangan yang lahir dari masa lalunya sebagai kultivator fana, yang beruntung mencapai kedewaan melalui kesucian hatinya, bukan kekuatan atau ambisi.
Hari itu, langit surgawi bergemuruh.
Aula utama para dewa diselimuti cahaya suci-seorang kultivator baru naik menjadi dewa. Semua entitas surgawi diwajibkan hadir untuk menyambutnya, dan Lian Hua berdiri di barisan belakang bersama para minor god lainnya.
Dari tempatnya, ia hanya bisa melihat siluet sang dewa baru di tengah aula-tinggi, tegap, diselimuti aura yang dingin namun memikat. Bisik-bisik di antara para dewa terdengar samar, menyebut bahwa dewa baru itu memiliki kekuatan yang belum pernah terlihat di kalangan minor god.
Lian Hua berjinjit, mencoba menembus pandangan lautan cahaya itu dan di saat itulah mata mereka bertemu.
Sekilas, hanya sesaat.
Namun dari tatapan itu, Lian Hua tahu... ada sesuatu yang berbeda.
Aura yang asing, seperti badai di balik keheningan dan samudra di bawah api surgawi.
Nama yang bergema di hatinya saat itu;
Tian Zhen.
Dan sejak hari itu, nasib sang Dewa Teratai yang dilupakan perlahan berubah.