We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Pshycopat Logic

Pshycopat Logic

  • WpView
    Reads 581
  • WpVote
    Votes 76
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 7, 2019
WpInfo
Fanfic
Red Velvet
Pshycopat Logic mengisahkan sebuah memori kilas balik dari seorang psikopat keji yang menyesal atas semua tindakan yang pernah ia lakukan hanya untuk kesenangannya semata. Karna kesenangannya terhadap darah ia bahkan kehilangan satu-satunya orang yang ia cinta dan mencintai dirinya. Dia menyesal bahkan sangat menyesal tapi apa lagi yang harus ia lakukan? Semua sudah terjadi nasi sudah menjadi bubur. Dan ini lah kisah keji dan menyentuh dari seorang pshycopat.
All Rights Reserved
#55
joykook
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Complete (END)
  • W.H.Y ? =END=
  • Sleep With The Devil (JOYKOOK)
  • Gravity & Destiny [END]
  • ONLY YOU
  • SANG CACHÈ | HIATUS
  • 𝕋𝕦𝕟𝕒���𝕟𝕘𝕒𝕟𝕜𝕦 𝕊𝕒𝕪𝕒𝕟𝕘
  • ❌GOOD BOY BUT PSYCHO✔ [JEON JUNGKOOK]

"Ya, kau tidak punya mata? Lihat, buku ku jadi kotor!" Sosok yang sedang membersihkan seragamnya tersentak kaget mendengar pekikan tersebut. Matanya berkedip tidak percaya. Heol, jelas-jelas dia yang korban disini. Mengapa jadi dia yang di salahkan? Memberanikan diri, dengan perlahan dia menatap gadis bertopi di hadapannya itu. Seketika gadis berseragam sekolah itu menelan salivanya susah payah mendapati tatapan tajam di balik kacamata hitam tersebut, seakan siap menerkamnya saat ini juga. "J-jongsahamnida. Nde, aku yang salah," Yeri membungkuk dalam. Hanya cara ini yang terpikirkan olehnya. Yap. Gadis itu adalah Yeri baru saja pulang sekolah. Dia memutuskan untuk membeli minuman susu di tempat favoritnya sebelum pulang ke rumah. Tapi malah berakhir seperti ini. Joohyun menggeram kesal sambil melepas kacamatanya, mencoba menahan amarahnya yang siap meledak. "Aish, bisa-bisanya kau membuat ku kesal seperti ini," Hari pertamanya di kota kelahirannya saja sudah di sambut dengan hal seperti ini. Bagaimana kedepannya nanti?

More details
WpActionLinkContent Guidelines