Hanya Dhiya

Hanya Dhiya

  • WpView
    Reads 250
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 26, 2023
Hidup adalah sebuah misteri, bahkan untuk bermimpipun aku terlalu takut. Takut apa yang akan terjadi tidaklah sesuai harapan. Jangankan bermimpi, untuk berangan pun aku takut. Pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Seakan rasa sakit dan bahagia tak terlalu berbeda untukku. Bahagia? Sebahagia apa? Bahkan bahagiaku masih terasa menyakitkan. Ya, aku hanyalah seorang gadis kecil. Yang sudah terbiasa sendiri, semua orang yang pernah menjadi tempatku untuk bergantung hidup pergi meninggalkanku. Aku pernah hidup bersama mimpi-mimpi indah tentang masa depan, namun nyatanya bahkan sebelum aku berusaha menggapainya mimpi itu menamparku keras. Seolah mimpi indah tentang masa depan tak ingin hadir menemani hari-hariku. Yang ada hanya tentang kenyataan hidup yang pahit, dan harus selalu siap untuk menyambut pahit esok hari dan entah sampai kapan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • My Badboy
  • Hilang dan Pulang
  • Tiga : Aku, Kamu, Kita (TAMAT)
  • [END] WHAT WE HAVE PASSED TOGETHER?
  • Bintang Embun Dalam Kenangan
  • Aku Kamu Dan Dia
  • The Ugly Truth
  • Penjara suci
  • Past Love Part 1

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines