CLICK
  • WpView
    Reads 1,741
  • WpVote
    Votes 233
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 9, 2019
Sepatu kecilnya berhenti melangkah. Ekspresi yang tadi ceria berubah seketika. Iris matanya membulat, tiba-tiba air matanya keluar tanpa diperintahkan. Dia Zania Asykira Syifa sang pemilik iris mata hitam lekat. Tiba-tiba dari belakang matanya ditutup. Entah siapa itu. Dia memeluk Zania erat tak ingin membiarkan semuanya dilihat anak sekecil itu. Dia membisikkan kata-kata 'semuanya akan baik-baik saja.' Dia membawanya Zania jauh dari tempat semula. Tidak ada penolakan. Diam. Zania seperti membisu. Jiwanya seperti hilang. Hanya air mata lah sebagai tanda bahwa dia tidak baik-baik saja. Kehidupannya dengan tiba-tiba berubah 180 derajat. Apakah dia mampu untuk mengatasinya? atau terjebak dalam lingkup yang tak tau arahnya akan kemana? Inilah kisah Zania Asykira Syifa. Gadis ber iris mata hitam lekat dengan segala lika liku kehidupannya. ♡♡♡ #happyreading Ttd Selindewf 🍁🍁🍁 #enjoy :)
All Rights Reserved
#28
kelam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Lantas (END)
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • aku atau dia? || Fenly Un1ty ||
  • SeLYna🍂
  • Alter Ego
  • ASHA
  • Ex or New? [REVISI]
  • Bahagia & Luka (END)

PERINGATAN ⚠️ Di beberapa part terdapat adegan kekerasan dan kata-kata kasar! ------------------------- Navisha Aqila Anastasia, gadis berambut sebahu berusia 17 tahun, adalah siswi cerdas yang selalu menjadi kebanggaan sekolahnya. Memasuki awal kelas 12, ia dipertemukan dengan Arzan Nauval Abraham, siswa yang harus mengulang tahun terakhirnya. Awalnya, mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan duduk di bangku yang sama. Namun, waktu demi waktu menghapus jarak di antara mereka, mengubah pertemuan biasa menjadi kisah yang tumbuh di sela tawa dan diam-diam yang saling mengerti. Hingga suatu hari, ada satu hal yang menyangkut orang tua mereka yang memaksa mereka untuk menjaga jarak, seolah perasaan yang sudah terlanjur tumbuh harus dibekukan begitu saja. Haruskah mereka menyerah pada ego orang tua mereka? Atau justru melawan demi kebahagiaan yang mereka yakini? ~~~ "Terima kasih, karena pernah menjadi rumah, meski bukan yang terakhir."

More details
WpActionLinkContent Guidelines