Indigo [SUDAH DITERBITKAN]

Indigo [SUDAH DITERBITKAN]

  • WpView
    LECTURAS 224
  • WpVote
    Votos 8
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, mar 5, 2019
Gadis itu hanya bisa mengerjapkan matanya tak percaya. Tulisan yang terbubuh rapi itu lama-kelamaan semakin mengabur, seiring air matanya yang mulai merembes keluar. Kakinya mulai gemetar. Dan tubuhnya mulai lemas. Untuk beberapa saat ia hanya bisa berdiri mematung. Gadis itu memejamkan matanya perlahan, mengambil napas untuk menguatkan niatnya. Perlahan dia berbalik ke belakang. Dan mata sembabnya langsung bersitatap dengan bola mata sehitam jelaga yang selama ini menjadi penopangnya. Dia masih sama. Dia laki-laki yang sama. Dan mata itu masih menatapnya dengan cara yang sama. "Aku tau sejak awal kamu berbeda." Laki-laki itu tersenyum. "Kita tak sama. Itulah alasan mengapa kita tak bisa bersama."
Todos los derechos reservados
#729
basket
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Vericha Aflyn ✔️
  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • Amor Almira
  • GADIS (Lengkap belum revisi)
  • How to Survive
  • [Bukan] Couple Goals [SUDAH TERBIT]
  • Strawberry
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • ARDILA & DINAR
  • Friendzone

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido