Jalan Panjang

Jalan Panjang

  • WpView
    Reads 341
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 5, 2019
Hai, namanya Mentari. Anak pertama yang dilahirkan nomer dua setelah kakaknya yang tidak selamat di proses kelahiran. Ya, waktu itu dalam praktek simbah dukun bayi --yang tidak tahu menahu dengan pasti ilmu midwifery-- sempat menaruh cabe di mata kakak mungilnya yang malang, menurut cerita karena tidak segera menangis sesaat setelah dilahirkan. Dan yakin, banyak simbah dukun bayi itu kolot. Makanya sekarang ga dibolehkan praktek kan. Hihihihi. Sudahlah, Mari mencoba mengingat, memutar ulang kembali apa-apa yang terjadi pada tahun 90-an. Bagaimana hari-hari kemarin yang telah dijalani Mentari? Sebelum memory dalam otak ini semakin dirampas oleh pikun. Sebuah kisah klasik masa kecil anak pinggiran, di perbatasan kota antara Jogja dan Bantul. Ditulis untuk mengukir sejarah, memberikan cerita dari masa yang berbeda agar bisa dipelajari oleh anak cucu kita di masa kini. Agar kita bisa menghargai hidup dan menerima apa saja yang telah dan akan terjadi dengan hati lebih terbuka. Mengabadikan kenangan indah dan perjuangan sebagai anak-anak yang bebas dan tak memiliki aturan. Namun, hati kecil anak-anak adalah murni. Masa kecil Mentari, terdengar receh tetapi percayalah. Ini berharga dan patut diperhitungkan. Banyak pelajaran berharga yang diselipkan Tuhan bagi setiap hati dalam detik demi detik perjalanan hidupnya, semua yang mungkin buruk ataupun yang terlihat baik. Diberi judul Jalan Panjang karena, rasa pahit kehidupan itu tidak akan datang terlalu lama, kok. Senang atau susah, mereka hanya sebentar singgah. Hidup harus terus berjalan. Dan, jalan itu masih sangaaaattt panjang. Tersenyumlah ... Jangan menyerah sekarang! ;)) *Mentari, mencoba mengawetkan kenangan receh masa kecil*
All Rights Reserved
#70
anaknakal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • QODARULLAH
  • KITA BERBEDA (antara Aku, Kamu, dan Tuhan)
  • Mentari Senja [End]
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Terjebak 2 Alam [S1 dan S2]
  • JnB [JonBa] | 2 Kota ini?
  • SMARA DIKTA
  • Angkasa (Forget Me Not)
  • Zidan With Syakira

Semua manusia tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan kedepannya. Tidak ada manusia yang selalu bahagia tanpa rasa sedih yang menghampiri. Pun sebaliknya, tidak akan ada manusia yang berlarut-larut dalam kesedihan tanpa sedikit bahagia yang akan jadi pengobatnya. Kita semua adalah manusia biasa yang kapan saja akan berpulang kepada-Nya jika sudah waktunya. Tidak peduli apa yang tengah dilakukan. Jika masa itu tiba, tidak ada siapapun yang bisa mencegahnya. Kita tidak bisa menawar untuk hidup lebih lama, pun kita tidak bisa meminta untuk dipercepat bertemu dengan-Nya. Semua sudah diukur dengan porsinya masing-masing. Rejeki, jodoh, maut, semua kisah hidup sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Kita manusia biasa. Kita hanya bisa berencana. Sedangkan hasilnya, itu sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa. Selamat membaca. Ini cerita pertama yang saya tulis. saya harap pembaca bisa menikmati tulisan saya. Ambil hikmah positifnya. jangan sungkan untuk memberikan kritik agar kedepannya penulis bisa menjadi lebih baik. Salam hangat, Penulis Catatan: Seluruh foto dari cover hingga foto yang ada di cerita, semuanya penulis ambil dari beberapa website yang ada di google. Jadi, gambar bukan milik penulis ya. Karena penulis tidak mempunyai keahlian dalam bidang gambar.

More details
WpActionLinkContent Guidelines