Senja Sindoro

Senja Sindoro

  • WpView
    Reads 243
  • WpVote
    Votes 53
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 19, 2019
Ketika kita masih kecil, semua orang akan dengan senang hati memberi maklum atas segala kesalahan yang kita perbuat, "Namanya juga masih kecil." Lalu kesalahan kita akan terampuni dengan mudahnya. Sayang ketika beranjak dewasa, tiada lagi toleransi untuk hal semacam itu. Celakanya adalah Sarah tetap melakukan kesalahan yang sama selama 8 tahun lamanya, ia tetap menunggu dan mencintai manusia dengan keyakinan berbeda yang tentu tiada toleransi bagi perasaannya itu. Persoalan ini terlihat biasa jika terjadi di masa kecil, tapi tidak lagi sesederhana itu ketika kita telah dewasa. Ketika semua berkata tidak akan mudah, Sarah tetap percaya pada perasaannya. Namun apakah pendirian atas kepercayaannya akan terbalas dengan indah? Senja di kaki dan puncak Gunung Sindoro telah menjadi saksi dan akan menjawabnya.
All Rights Reserved
#3
puncakgunung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta Neng Zulfa
  • In The Sunrise
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]
  • Pendekar Dibalik Layar 2
  • Mentari & Biru
  • Gus Ali Abizar {SELESAI}
  • Immortal Love (Complete)
  • Mistake [SELESAI]
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)

Versi Terbaru dari "Neng Zulfa" Katanya jangan menaruh rasa pada seseorang yang tak mampu membaca muramnya wajahmu, tak mampu menafsirkan sembab matamu karena tangis, juga gelagat kepanikan jari jemarimu menahan sakit. Namun, pertanyaannya, bagaimana kalau rasa cinta itu sudah terlanjur ada? Bagaimana cara menampiknya? *** Zulfa Zahra El-Faza, seorang putri kiai yang tidak pernah tertarik dengan cinta, apalagi pernikahan di usianya yang masih relatif muda. Namun, semenjak Fatih Thoriqul Firdaus, gus dari pesantren tempatnya menimba ilmu datang dalam hidupnya, segalanya berubah. A story by Puput Pelangi

More details
WpActionLinkContent Guidelines