Hijrah Cinta

Hijrah Cinta

  • WpView
    Leituras 661
  • WpVote
    Votos 24
  • WpPart
    Capítulos 7
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização dom, mai 12, 2019
WpInfo
Não Ficção
"Aku mencintaimu tetapi jujur, aku tak pernah sama sekali berharap agar kau pun mencintaiku" -Almeera Azzahra. "Kau tahu bahwa mencintai tanpa dicintai itu sakit?" -Habibie. "Tentu saja, aku tahu" -Almeera Azzahra. "Lantas apa kau yakin aku juga mencintaimu?" -Habibie. "Sudah ku katakan kalau aku tak pernah berharap sedikit pun untuk dicintai kembali, hanya saja aku tak suka memendam perasaan yang ada dan sekali lagi ku katakan bahwa ku mencintaimu" -Almeera Azzahra. "Kau wanita pemberani, berterus terang begitu saja tanpa memikirkan bagaimana keadaan hatimu selanjutnya tetapi bukankah kita baru saja saling mengenal? Lantas apa yang membuatmu mencintaku?" -Habibie. "Jangan tanyakan kepadaku kenapa ku mencintaimu karena aku sendiri pun tak tau apa alasannya" -Almeera Azzahra. "Terimakasih atas keberanian dan kejujuranmu tetapi maaf, aku tidak mencintaimu. Aku sudah menganggapmu layaknya teman pada umumnya." -Habibie
Todos os Direitos Reservados
#751
hijrahcinta
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Muhasabah Cinta
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • Capuccino Sore Itu  ✅ [Tamat dan sudah Direvisi]
  • Ternyata Kamulah Lauhul Mahfudz Ku
  • SERIBU HADITS✓
  • Behind You (ON GOING)
  • Rinai
  • MY LIFE IS MY CHOICE
  • Pahala Surgaku✓

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo