Loser
  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 21, 2020
"Apa yang kamu suka dari aku Ran? gk ada satupun hal yang bisa di banggakan dari aku, aku gak baik, aku gk pantas buat kamu" ujar Rafky berusaha selembut mungkin karena takut menyakiti gadis di depannya. "Gak Raf, ini bukan perihal kamu yang gak baik buat aku, tapi ini tentang Kamu yang gak pernah nerima aku dengan baik, aku gak perlu alasan yang banyak untuk Meng kalkulasi kan alasan kenapa aku menyukai mu Raf, bukan kah embun tak perlu punya warna untuk membuat daun jatuh cinta? " Ujar Kiran dengan tatapan sendu, bahkan satu bukir bening hampir lolos dari kelopak matanya. "Udah ya Raf, kamu gak perlu ngomong apapun lagi, cukup kamu tau aku sayang sama kamu, soal perasaanku itu urusanku, kamu cukup tau saja, aku pamit" Ujar kiran kemudian beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Rafky sebelum air matanya tumpah di depan Laki-laki yang sangat ia cintai itu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SKANDAL ADIK IPAR (SELESAI)
  • my bad boy
  • HEARTBREAKING (On Going)
  • Alkenio
  • My Girl ( END )  Kookv Gs
  • 𝐇𝐄𝐊𝐒𝐀𝐕𝐈𝐀𝐍
  • Kinara, Penipuan Cinta
  • AURORA
  • Arsyilazka
  • Prestige Or Love? [END]

"Rafael" kata itu meluncur dengan sendirinya. "Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanya Rafa. Ia memperhatikan tubuh Arin, ia memastikan tidak ada terluka sedikitpun ditubuhnya. Rafa mengenal wanita berparas cantik itu. Pertama kali ia lihat bahwa itu adalah Arin, calon adik ipar. Dulu Rafa, mengenal Arin saat Arin masih kecil, kira-kira ia masih duduk di sekolah dasar, dan sekarang tumbuh sebagai wanita dewasa. Oh Tuhan, kenapa Arin tumbuh begitu cantik, kulitnya pucat seperti porselen, tidak pernah disentuh. Matanya begitu bening dan hidungnya mancung. "Saya tidak apa-apa, kesayangan, kenapa bisa hancur begini" Arin melangkah mendekati ponsel miliknya, ia memunguti satu persatu kepingan-kepingan ponsel miliknya. Kesayangan? Ternyata Arin menyebut ponsel itu dengan kata kesayangan. Rafa ingin tertawa, Rafa lalu mendekati Arin, dan ikut berjongkok memunguti kepingan-kepingan ponsel Arin yang hancur berderai. Diliriknya lagi Arin dihadapannya. "Maaf, saya akan mengganti ponsel baru untuk kamu" ucap Rafa mencoba memberi solusi. Sesungguhnya kejadian tadi bukan salah ia sepenuhnya. Arin lah yang tidak melihat arah tujuannya, Arin lebih asyik dengan layar ponsel itu. Sehingga menyebabkan adegan tebarkan itu. "Tapi, disini banyak foto-foto saya". "Yasudah nanti kita ke konter, saa yakin pihak konter tahu cara memindahkan foto-foto kamu itu" Rafa lalu berdiri, dan kembali menatap Arin. "Kamu kenapa bisa ada disini, Arin?" Tanya Rafa. "Liburan" ucap Arin ia malah menyengir. "Sendiri?". "Iya dong, sama siapa lagi". "Liburan sendiri itu tidak baik, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Ini Bangkok loh" ucap Rafa, lalu duduk dikursi tunggu, diikuti juga oleh Arin. "Tapi, saya sudah biasa kok. Kamu kenapa ada disini?". "Saya ada urusan kerja" ucap Rafa. "Jadi gimana, handphone saya?".

More details
WpActionLinkContent Guidelines