Judul standar - Tulis judul sendiri

Judul standar - Tulis judul sendiri

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 2, 2019
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Matahari mulai menguning,hujan tak kunjung redah, tapi sakit perut ibuku masih tak kunjung sembuh.mag sudah menjadi langganan ibuku,tak lama telpon berdering dari nomor tak dikenal.kemudian ibuku langsung mengangkatnya"halo ini siapa".dari seberang sana seseorang lelaki berkata"tidak usah cari aku lagi,anggap aku sudah mati!,aku hanya menyusahkan kalian".Ibuku sangat mengenal suara lelaki itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakakku. Seseorang yang sangat aku benci.mendengar hal itu ibuku semakin khawatir sedangkan aku makin membuat ibuku sakit"sudahla bu apa yang kau harapkan dari kakak.Dia benar dia hanya menyusahkankan ibu.tapi ibuku semakin khawatir dia berulang-ulang kali menelpon nomor tersebut tapi selalu di luar jangkauan.ibuku semakin menangis sedangkan aku makin kecewa.Ibuku kemudian menelpon Ayahku untuk ke tokoh(tempat aku dan ibuku berada).Sesampainya disini terlihat wajah ayah yang sedang menutupi kesedihan.Ayahku mencoba untuk menenangkan ibuku kemudian ia mengirim pesan singkat ke nomor kakakku "nak, kenapa kamu berkata demikian?apa kesalahanmu?,ayah berjanji tidak akan marah.sebesar apapun kesalahanmu ayah akan menerimanya dengan lapang dada.tapi kamu janji untuk pulang dalam keadaan selamat".
All Rights Reserved
#13
road
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Home (Completed) (Repost)
  • Ku Ingin Kau Kembali
  • ISTRI SETELAH CINTA
  • Bukan ZONK!
  • SYAKIRA how are you?
  • LIEUTENANT RIYYADH ISKANDAR (End)
  • JEEVANA
  • Hasrat Sang Pecinta
  • Sesal Yang Terlambat
  • Assalamualaikum Imamku

"Siapa barusan? Kok enggak disuruh masuk dulu?" ayah kini mengalihkan fokusnya padaku. "Teman Yah. Tadinya mau turun tapi aku bilang gak usah, gak enak udah malem," kataku lalu berjalan meninggalkan ayah. "Harusnya suruh masuk dulu, biar ayah tahu kamu berteman sama siapa?" katanya lagi. Aku memutar mataku jengah. Lalu berbalik menghadap ayah. Lalu berjalan mendekatinya. Menggelayutkan tanganku di tangan kekar laki-laki paruh baya yang selalu merasa khawatir padaku, seakan-akan aku ini masih gadis kecilnya. Satu hal yang ayah lupa aku kini sudah berusia 26 tahun dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Ayah, dia itu bukan siapa-siapa! Ayah gak usah khawatir kakak udah 24 dan bisa jaga diri," kataku sambil menggiring ayah masuk ke dalam rumah. Kudengar ayah menghela nafasnya, "Kamu itu permata ayah satu-satunya, harus benar-benar ayah jaga, karena ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu," katanya. Aku mengelus lengan ayah, "Ayah gak usah khawatir! Kakak gak akan buat ayah kecewa," kataku lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kemudian melepaskan lenganku yang menggamit menutup pintu depan dan memastikannya agar terkunci rapat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines