Promise

Promise

  • WpView
    MGA BUMASA 112
  • WpVote
    Mga Boto 21
  • WpPart
    Mga Parte 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Thu, Feb 7, 2019
Memulai kisah dari sebuah janji Janji yang mungkin takkan pernah ditepati Sekedar penyapa dikala kenangan itu kembali berputar dikepala menemani malam yang sepi Aku ingin menceritakan sebuah kisah. Kisah yang mungkin berakhir bahagia atau berakhir dengan tetesan air mata. Ini sebuah kisah. Bukan kisah tentang mereka atau kita. Juga bukan tentang dirimu. Ini tentang aku yang masih terjebak dimasa lalu. Menunggu sebuah janji, padahal aku tau itu tak berarti sama sekali.
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • 360 and Still Me
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • 31 Months for You (Revisi)
  • Traces in the Light
  • Erlangga
  • saat dunia menolak, kau datang seperti senja
  • " To Love ,To Lose "
  • All The Small Thing
  • JANJI YANG TAK SEMPAT DITEPATI

Violetta Lanora Adinata pergi tanpa pamit-meninggalkan cinta pertamanya, sahabat-sahabat yang pernah jadi rumah, dan serpihan kenangan dari masa putih abu-abu yang tak selalu manis. Tak ada kata maaf, tak ada salam perpisahan-hanya kepergian yang sunyi, dibungkus diam yang panjang. Namun waktu, dengan caranya sendiri, menyeretnya kembali ke tanah tempat segalanya bermula. Dan di sana, semesta seolah tak memberinya pilihan lain selain menghadapi apa yang selama ini ia hindari-luka lama, tanya yang tak pernah terjawab, dan cinta yang mungkin belum benar-benar usai. Alvaro Nata Prabawa-tinggi, berwibawa, dengan wajah yang nyaris mustahil diciptakan tanpa sentuhan seni ilahi. Garis rahangnya tegas, hidungnya bangir sempurna, dan sepasang mata tajam yang dapat membuat siapa pun yang ia tatap menjadi membeku dan terpana. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan dingin, nyaris menusuk. Tapi yang membuatnya terhenti sejenak adalah kenyataan bahwa gadis itu, gadis bermata hazel yang dulu selalu menatapnya dengan mata penuh kelembutan, kini membalas dengan sorot mata yang sama tajamnya. Sama menusuknya. Seolah waktu telah mengajarkan mereka bagaimana menjadi asing, mereka kini berdiri sebagai dua kutub yang tak saling mendekat, asing dalam bayang-bayang kenangan yang belum selesai.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman