Perihal Rasa di Penghujung Hari

Perihal Rasa di Penghujung Hari

  • WpView
    LECTURES 186
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Chapitres 5
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., août 11, 2019
Tara berbalik dan beranjak pergi. Ia terus menggenggam jilbab yang dikenakannya. Berharap segala niat dan keputusan yang telah ia ambil semakin kuat. Meski isak tangis terus mengiringi kepergiannya. Menjauh dari seorang lelaki yang tetap diam tak beranjak. Sorot mata lelaki itu memandang punggung Tara yang perlahan menjauh. Berharap gadis itu akan menoleh kembali, meski ia tahu itu takkan terjadi Perihal rasa di penghujung hari itu, Tara meyakini bahwa cintanya tak akan pernah bisa bersatu, selagi ia menempatkan doa pada Tuhan yang berbeda. Dengan berat hati ia berbisik penuh kecewa, "Selamat tinggal, Astra." Background cover by @pinterest Selamat membaca! #PRPH No Copas please :)
Tous Droits Réservés
#821
sweet
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • You, Hope, and Memories
  • Cinta Luar Biasa (End)
  • Saat Hati Tak Lagi Menunggu
  • SENIOR ( S E L E S A I )
  • Closed Door - "see you in yesterday"
  • Jodoh Pilihan Mama (END)
  • KRISANTARA
  • Ikhwan [SELESAI]
  • Erlangga
  • A Second Chance #Brotherhood 3 (Complete)

~Sakura Minami~ Aku mencintainya sejak pertemuan pertama kami. Mungkin dia adalah jodohku, karena Tuhan mempertemukan kembali diriku dengannya . Tapi, dia seperti angin. Dia yang selalu ada di dekatku, tapi takkan pernah bisa ku gapai. Lalu aku bertemu dengannya. Dan pertanyaan muncul di benakku: jika dia memang jodohku, mengapa aku menggapai orang lain? ‬‪~Kenan Voresta~ Dia segalanya di hidupku. Ini bukan lirik lagu yang dia sukai, atau larik puisi yang ku kutip dari novel miliknya. Ini arti dirinya bagiku, dari dulu hingga nanti. Dan dia baru mengetahuinya, ketika dirinya dipelukan yang lain. Tapi, bukankah tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan yang dicinta? ‬ ‪~Brian Voresta~ Aku tak pernah menyesal bertemu dengannya, meskipun pada akhirnya, Tuhan lebih memilih untuk memisahkan kami. Dia adalah pewarna di hitam putih hidupku. Dan ku rasa, aku tak akan pernah menemukan penggantinya, karena separo jiwaku, ikut terbawa seiring dengan kepergiannya.‬

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu