Dealing With Bullying

Dealing With Bullying

  • WpView
    Reads 87
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 7, 2019
Ini Aku Jake, Seorang anak sma Yang suka membully dan menindas orang yang lemah. Setiap kali aku membully tidak ada yang berani membantu korban yang aku bully, sampai suatu suatu hari dimana aku membully membuat seorang siswa bernama Joseph meninggal karena depresi dan stress. Entah kenapa aku merasa sangat bersalah karena menindas yang lemah. Aku pun membuat keputusan yang fatal demi pindah ke sekolah baru yang dimana sekolah tersebut sering terjadi kasus bully. Aku melakukannya karena aku merasa bersalah, aku ingin merasakan apa yang dirasakan Joseph. Apa yang dirasakan orang lemah saat di tindas. Aku pun pergi ke sebuah kota dan tempat yang baru dan menyamar sebagai Murid yang cupu, kutu buku, pendiam dan juga lemah. Aku sudah bersiap akan hal ini karena aku memiliki kemampuan bela diri. Aku pikir ini akan mudah bagiku. Nyatanya ini sangat sulit dan jalanku masih panjang. Banyak hal dan tantangan yang harus kulalui demi mencapai tujuanku. Dan inilah kisahku dalam mengatasi "Bully"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Paradise
  • Allena
  • YUKI ( yang mereka tertawakan )
  • The Dark and Light [Hiatus]
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • SAGARA [ON GOING]
  • UNFRIEND
  • AMORA Wounded Girl (Perjodohan)
Paradise

(SUDAH TERBIT) PESAN DI SHOPEE LOVELYMEDIA. "Lihat saudaramu yang lain! Mereka berprestasi! Tidak buat onar! Membanggakan orang tua!" Baginya yang terbiasa dibandingkan dengan saudara sendiri, mendengar perkataan itu tak lagi menimbulkan sakit meski sesekali menangis dalam diam. "Woi cupu! Beresin nih sekalian buang sampahnya. Awas aja lo masih bisa santai disini." "Orang kayak lo emang pantes dapet temen?" "Makanya gak usah belagu! Dasar babu!" Lambat laun perkataan mereka tak lagi berefek pada hatinya, apa ini? Apakah ini yang disebut mati rasa? Ternyata ... setelah mati rasa pun ia tetap merasakan pahit yang sulit dijelaskan. Mengapa begitu banyak orang yang membencinya? Apa salahnya? Di mana letak kekurangannya? "Urus diri lo sendiri!" "Dasar manja!" "Qi, urusan abang bukan cuma kamu. Jangan egois." Ah, begitu. Ternyata di mata ketiga saudaranya pun ia terlihat manja dan menyusahkan. Bagaimana ini? Hatinya kini sudah pecah berkeping-keping, ia tak lagi merasakan dirinya sendiri. Harapannya ... sungguh sederhana, semoga kelak Ayah dan ketiga saudaranya dapat kembali menyayanginya. Semoga masa SMA-nya bisa seindah cerita novel yang ia baca. Semoga keinginan itu dapat ia rasakan sebelum ajal menjemputnya dengan paksa. .... Warning: violence, harsh word, bullying, suicide, etc. All picture from pinterest.

More details
WpActionLinkContent Guidelines