Deja-Boo

Deja-Boo

  • WpView
    Reads 365
  • WpVote
    Votes 45
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadComplete Fri, Mar 15, 2019
Mata kami saling bertatapan. Aku duduk di emperan toko dan dia berdiri di hadapanku. Aku menangis dan dia menyodorkan sehelai tisu. Samar-samar ingatan itu mulai kembali. Aku seperti pernah mengalaminya. Dan kuyakin dia pun begitu. Dia tersenyum dan semburat merah keluar dari kedua pipiku. Dia masih berdiri di sana, menantiku meraih sehelai tisu yang diberikannya. Aku mengambilnya, menghapus air mataku, mengeluarkan dengan paksa cairan dihidungku. Ini nyata. Ini bukan mimpi. Tidak ada yang berubah, meskipun aku tidak yakin. Semuanya masih sama, meskipun aku tidak mengingatnya. Kalaupun ada, hanyalah perasaan dan sifat itu sendiri. Apakah perasaan saling tertarik satu sama lain itu masih ada? Atau sifat egois karena rasa kesepian itu yang tidak pernah hilang? Hanya kami yang mengetahuinya. "Apakah ini de javu?" "..." "Apakah ini déjà-boo?" "..." "Ini adalah de javu atau déjà-boo...." "Yang kita inginkan." Kami mengucapkannya bersamaan. Sekali lagi, ini bukanlah mimpi, ini kenyataan. Hadiah dari sebuah takdir yang sudah mengakhiri perjalanan panjangnya.
All Rights Reserved
#9
kimjonghyun
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Expectation Of Love (Vrene - Book II)
  • Can You Hear My Heart
  • F A T E |NA Jaemin|
  • Vira Ayunda[On Going]Revisi✓
  • FATE'S CRUEL KINSHIP (SELESAI)✅
  • BACKWARDS (spartace ff)
  • June | PJM

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines