Pecandu Rindu

Pecandu Rindu

  • WpView
    Reads 212
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 9, 2019
Kau tahu, apa yang menyenangkan dari rindu? Tidak ada yang menyenangkan, karena ia masih saja menginginkanmu berada di pelukan. Aku tidak pernah mencoba untuk mengingat, hanya saja pancaran keindahan di wajahmu masih terasa menyengat. Keadaan memang menyebalkan, kenapa pula dirimu harus pergi meninggalkan gumpalan cerita yang menumpuk di dalam hati yang kini tak tertata. Kulihat sekarang kau sudah berbahagia, bukan berarti aku tidak, hanya saja belum ada orang yang beruntung untuk kubagi dengannya. Sialnya, bagaimana bisa penggantimu aku dapat, bila perkara melupakanmu saja otakku tak sempat dan hati tak pernah kuat. Kini aku menjadi budak sajak setelah hati ini kau rusak, dan atas nama rasa yang dibunuh secara paksa aku pun mencoba beranjak walaupun tak kuasa. Pernah kau merasa rindu? Seperti aku yang mecandu rindu di setiap malam-malam yang terasa pilu. Bila pun tidak, itu tak mengapa. Setidaknya aku pernah berjuang untuk mempertahankan meskipun pada akhirnya aku kau tinggalkan. Kamu adalah orang yang mengisi hati dan hari-hariku dalam beberapa bagian dari sang abad, tak heran bila semua tentangmu masih kusimpan dengan begitu rapat. Datanglah bila kau sempat, meskipun hanya untuk keluh kesahmu aku bertempat. Kata Dilan: "rindu itu berat, kau takkan kuat, biar aku saja." Masa bodoh dengan Dilan, sesekali kau harus mencoba perihnya rindu agar kau kenal dengan pilu. Teruntuk kamu yang hatinya sedang berkelana, apa kau masih ingat berapa banyak lini masa yang kita jelahi bersama? Tak apa, aku hanya bertanya. Sampaikan salamku untuk kekasihmu yang baru, katakan kepadanya untuk jangan berlagu, karena pada dasarnya dia telah mengambil kamu dari kebahagiaanku. -Terlahir menjadi budak sajak, ketika hati ini menjadi rusak.-
All Rights Reserved
#66
sebuahrasa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • MY BOYFRIEND IS MY HUSBAND
  • flashback~
  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • Datang Untuk Pergi
  • Sekali Lagi (End)
  • Fourple Of Love
  • BETRAYAL OF LOVE
  • Haruskah Aku Bertahan?

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines