Story cover for Speed Drifter by AdhitiaDqwolfberg
Speed Drifter
  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Feb 09, 2019
Cerita yang diambil terinspirasi dari game yang sedang boming di tahun 2019 ini. Awal perilisan game ini sangat dinantikan oleh semua gamers di Indonesia, akan tetapi saat dirilis game ini, para cheater sudah meretas scrip dalam game ini, karena hal itu, game baru ini sudah di cap sebagai "Dead Game" atau "Cheater Game".
All Rights Reserved
Sign up to add Speed Drifter to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 9
MENGUMPAT ! cover
Never Again cover
Cinta Sang Prajurit (END) cover
RAJAWALI [REVISI] cover
Beruntung (Aouboom) || bxb cover
Psychopath Boyfriend [COMPLETE] cover
Mencintai dalam diam cover
GABUT SQUAD cover
✿Ⓘ ⓗⓐⓥⓔ ⓐ ⓒⓡⓤⓢⓗ ⓞⓝ ⓨⓞⓤ✿[END] cover

MENGUMPAT !

12 parts Ongoing Mature

Perempuan introvert ini mulai membuka diri, mulai bermain media sosial, lalu keanehan demi keanehan dalam dirinya mulai terjadi yang sekaligus menjadi penghubung antara masa lalu dan teman-temannya. "Aku berencana mengirimkan DVR ini bersama dengan seprei yang dipakai ketika malam pertama kami menikah. Barangkali terdengar konyol, tapi seprei ini ada noda bekas darah selaput perawanku, iya ini salah satu kenangan yang masih tersimpan rapih di kotak penyimpanan kamar tidur kami. Aku titipkan seprei ini kepadamu Eya. Jika nanti anak perempuanku sudah remaja tolong berikan kepadanya sehingga nanti dia bisa menjaga mahkota hanya untuk suaminya." Eya sering kali mengumpat dari rasa takut dan trauma yang sekaligus menjadi bentuk luapan dendam amarahnya. Segala hal mengenai kematian merangsek berubah menjadi obsesi. Kengerian-kengerian mulai mewujud dalam pikiran, seakan membabibutakan kesadaran, di antara nyata atau imaji hanya ada mati. Cattleya Kirana Dewi, adalah mimpi buruk bagi pikiran dan imajinya. Saat ajal mulai melingkari leher, mereka memohon kematian kepadanya, sedangkan kematian baginya hanyalah sebuah jembatan untuk menuju keabadian. Mengumpat di dalam kematian tidak lagi tabu bagi mereka yang menuju mati dalam umpatan.