We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Hijrahku menjadi muslimah

Hijrahku menjadi muslimah

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadComplete Sun, Mar 24, 2019
WpInfo
Non-Fiction
Aku tak tau entah kenapa mama,andre sepupuku,ayah,kakakku sendiri bahkan temanku menyuruhku untuk memakai kerudung awalnya aku menolak kasar tapi setelah ibu dan ayah menasehatiku bahwa berkerudung itu kewajiban seorang muslim untuk menutup auratnya. Walaupun aku memang awalnya iseng memakai kerudung tapi itu membuatku gerah dan rambutku menjadi tak secerah wajahku. Tapi semuanya berkata "pelan2 kamu akan terbiasa memakai kerudung kok" itulah yang membuatku bimbang dan aku belum siap melakukan semua itu. Namun aku masih ingin membiarkan rambut sedikit kecoklatan ini terurai dan terlihat cantik sampai aku merasa benar2 bosan. Ini kayak cerpen aja ya guyss Update every friday and sunday (siang hari yaa) Kalo aku telat update mungkin aku masih sibuk dan kalo aku gak update seminggu/berbulan atau lama bangeett artinya biasanya aku gak punya kuota banyak andd happy reading diabawa enjoy aja.
All Rights Reserved
#46
farah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • WHY ARE YOU EVILL !!!
  • my favorite person
  • PULANG  [COMPLETE]
  • Friendzone?
  • OUR [Selesai]
  • Tentang Ashel
  • HELLO, ASHEL!
  • SARAH STORY
  • CERITA PENDEK

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines