Memilih & Pergi

Memilih & Pergi

  • WpView
    GELESEN 236
  • WpVote
    Stimmen 3
  • WpPart
    Teile 1
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Apr. 29, 2020
WpInfo
Belletristik
Romantik
Prolog... Sebuah malam yang kelam, tanpa ada bintang dan bulan. Sebuah penantian yang sia-sia tak terbalas. Sebuah hangat yg hilang. Angin mengapa engkau terasa dan ada, namun kau tiba-tiba menghilang. Deru nafas yang memburu, sebuah cairan bening mengalir deras di pipi ini, tubuh yang rapuh, senyum yang telah lama hilang. Mengapa disaat aku mulai melupakanmu, kau kembali dan menaruh harapan itu lagi padaku. Jika seandainya, saat itu aku tidak mengenalmu. Mungkin detik ini juga aku akan menganggap itu hanya sebuah iklan. Iklan yang lewat begitu saja dan tidak dibutuhkan. Bila suatu saat nanti aku bisa memilikimu, maka akan ku pasti kan aku akan melepaskan mu untuknya. Jika itu pilihan. Aku rela melupakanmu demi sahabatku. "Bisahkah kau bersamanya!" "Mengapa?, apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi?" "Akan kelepas dia untukmu" "Tapi..." "Berbahagialah, tenanglah aku akan baik-baik saja. Jagalah dia, aku mempercayai mu sebagai sahabatku." Syukron semuanya sudah sempatin baca karya aku, jangan lupa kasih pemasukan yah readers😊 dan yah Afwan juga jika ada salah dalam diksi, makhluk baru pemula.
Alle Rechte vorbehalten
#59
allahswt
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • You're Here, But Not For Me
  • Cerita Tentang Kita
  • RANNA
  • Lembar Terakhir Surat Untuk Dika
  • My Doctor [END ] ✔
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Memories in Moon
  • Ingkar 🌿|| Ending
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien