Bila
  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 28, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Ini hanyalah sebuah kisah klise biasa. Yang mungkin dapat ditebak alurnya. Tapi bukan takdir namanya jika tak berubah tanpa perlu bertanya. Dan ini perihal aku, seseorang yang masih terjebak dalam masa lalu. ~~~~~ "Apa yang membuatmu lebih menyukai fajar dibanding senja?" Ujar Joan. Pandangannya lurus, menatap sang surya yang perlahan mulai menampakkan sinarnya. "Karna hanya sang fajarlah yang mampu menarikku dari gelapnya mimpi-mimpi yang selalu ku lewati." Ucap Bila seraya menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyum kecil. Dan matanya berbinar tatkala sinar mentari semakin merangkak naik. "Semoga aku juga bisa menjadi sang fajar yang akan selalu menerangimu dari gelapnya mimpi-mimpi itu." Joan berkata sembari menolehkan sedikit pandangannya ke arah Bila. "Ya, semoga.." suara hati Bila menyahut. Pandangannya pun mulai berkaca-kaca. Ya. Diam-diam ia mengiyakan perkataan itu. Kata-kata yang akan selalu ia ingat sampai kapanpun.
All Rights Reserved
#47
joan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Red [Cerita Pendek]
  • Stay (Away)
  • Aksara Lingga
  • Arunika
  • Fajar & Senja
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • Hitam Putih Cinta [Terbit Ebook]
  • A New Beginning
  • KERLIP BINTANG CINTA

"Nara, kamu nggak bisa seenaknya gitu dong sama perasaan orang." lelaki tampan dengan fitur rupa setara deskripsi dewa-dewa mitologi Yunani yang acapkali diagung-agungkan oleh hampir setiap insan itu melayangkan protes, menatapku lekat penuh goresan yang tak payah disembunyikan dari balik matanya. Aku menoleh, menerobos masuk dalam sukma lewat bulat besar matanya yang teduh, "Emang aku seenaknya gimana, Kak?" tanyaku pada Pramudya, yang entah sudah keberapa kali dicobanya gapai kedudukan yang terlanjur kukerek naik hingga sukar bagi tiap insan yang hendak mencapai. Dada Pramudya naik turun. Ia memejamkan matanya sejenak, sambil kuserok lagi keteguhan hatiku untuk tetap berada di puncak, menolak terlena dalam tawarannya akan ikrar tuk merengkuhku di hari tergelap yang terkadang mampir tuk kecohkan pandanganku akan masa mendatang. Kelopak mata Pramudya kembali terbuka - masih luka disimpannya disana. "Yang deketin aku pertama kan kamu, terus waktu aku tertarik juga ke kamu, sekarang kamu bilang kamu nggak mau ada di hubungan apapun? Itu maksudnya apa kalau nggak semena-mena?" Pramudya curah perasaannya dengan marah, meski tetap rendah nadanya teralun. Aku tertawa kecil. Lelaki yang cermat. Sungguh jika masih tersisa percaya meski hanya seujung kuku dalam hati, rela kuselami palungku demi Pramudya. Namun sayang, lenyap sudah pandangan baikku akan cinta, hingga yang tersisa bagi Pramudya hanyalah Nara yang rapuh lekat dengan segala traumanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines