Di usia tiga puluh tahun, Anggasta yang telah empat tahun merawat aroma kopi di Harsa Coffee mulai merasa lelah mencari tempat untuk benar-benar menetap. Sepanjang perjalanan itu, Alaya selalu ada di sudut memorinya-seorang sahabat satu kampus yang dalam sepuluh tahun terakhir mengerti setiap jeda dan kebiasaannya, meski Alaya sendiri terus bergelut dengan keraguan untuk bertahan pada satu pilihan hidup. Di antara riuhnya rutinitas kerja, tuntutan usia, dan bayang-bayang masa lalu yang mendadak mengetuk kembali, Harsa Coffee berubah dari sekadar kedai kopi menjadi ruang tenang tempat dua jiwa yang saling mengenal lama ini saling mendengarkan. Namun saat arah hidup memaksa mereka memilih, mereka dihadapkan pada satu pertanyaan yang tertahan sekian lama: apakah seseorang yang selalu ada selama bertahun-tahun adalah rumah yang dicari, atau sekadar tempat beristirahat sejenak sebelum masing-masing melanjutkan perjalanan?
More details