[Based on true story and daily activity, tetapi ada beberapa momen yang fiksi, semua nama orang disini disamarkan, namun selebihnya cerita ini akan mengulik perjalanan seseorang dalam menemukan versi terbaik dari dirinya]
Tulisan ini, didedikasikan untuk hati yang telah terlatih patah hati, hati yang tak pernah lelah, hati yang selalu mau belajar dari pengalaman. Menyangkut masalah hati, tidak melulu soal jatuh cinta, namun tentang bagaimana hidup adalah sebuah perjuangan yang indah bila dinikmati prosesnya. Jika di masa lalu ada hal yang tidak sempat tercapai atau gagal atau hal buruk terjadi, tidak perlu disesali, hanya perlu diingat kebaikan dan hikmah yang dapat diambil. Dengan begitu, hidup akan menjadi lebih tenang dan bahagia karena hal yang hanya perlu diingat adalah kebahagiaan yang meski tidak berlanjut dengan seseorang yang diharapkan akan mengarungi pasang surut perasaan dan kehidupan yang fana ini.
Pengalaman ini kunamakan "Edelweiss", mengapa? Bunga ini tentunya tidak asing bagi para pendaki gunung. Edelweiss merupakan sebuah bunga yang mampu bertahan hidup di tanah yang miskin air atau unsur hara. Dalam hidupnya, edelweiss terus berjuang, sehingga sebisa mungkin ia memberikan dampak yang baik bagi sekitarnya, termasuk para pendaki gunung. Edelweiss mampu menjadi obat bagi para pendaki ketika mereka kelelahan.
Kehidupan pun seperti itu. Penuh perjuangan dan pengorbanan. Ada saatnya kehidupan akan membawamu pada titik teratas dan terbawah. Tapi yang perlu diingat, seberat apapun masalah yang dihadapi, teruslah berjuang agar apa yang kita lakukan dapat bermanfaat bagi sekitar.
Update chapter ketika author sedang dalam mood menceritakan~
Perjalanan itu membuatku berpikir banyak hal. Kemana kita akan pergi? Kemana tujuan akhir ini? Apa yang menanti di garis akhir? Di sudut hatiku berharap ia, tapi bukankah yang seperti itu hanya ada pada dongeng dalam buku. Kenyataannya, dia sungguh tak berpijak dimanapun. Dia enggan pergi, enggan pula melangkah mendekat lagi. Memandangku dari tempat yang tak terlihat, tiba-tiba saja mengusikku lagi di kala hujan. "itu namanya kenangan,'' kata mereka. Seolah semua rasa sesak yang ditimbulkan adalah normal, seolah tak ada apapun yang salah. Sementara aku dan dia berada dalam ketidakpastian.
Tapi itu adalah kehidupan. Kau tidak bisa menyangkalnya, kau hanya bisa menerimanya. Meksi keajaiban tak selalu terjadi, bukan berarti tak akan terjadi. Cinta adalah misteri. Tak seorang pun tahu kapan datangnya dan pada siapa perasaan itu jatuh. Kenangan-kenangan menjadi bagian yang tak dapat dihilangkan dari setiap diri, menjadi penentu bagaimana harus melangkah. Pemikiranku yang kemarin dan hari ini, mungkin saja berbeda karena aku telah lebih memahami jawaban dari semesta.
Maka pilihan terbaik adalah memanfaatkan waktu semasa hidup sebaik mungkin. Menyampaikan apa yang belum sampai, melakukan apa yang harus dilakukan. Kebanyakan dari manusia akan menyesali apa yang tidak pernah mereka lakukan ketimbang apa yang telah mereka lakukan. Dan tiap perjalanan akan sampai pada tujuannya, yaitu bahagia. Kisah cinta yang lain seperti lagu yang sering kami dengarkan. Baik perlambangan cinta sejati maupun kematian, bunga krisan yang mekar itu tetap akan mekar tak peduli bagaimana pemikiran orang terhadapnya. Begitu pula lah perasaan manusia. Hal yang tak pernah membosankan untuk dipelajari.
Pada akhirnya, bunganya telah mekar dengan makna yang tepat.
Bunga krisan dengan perlambangan cinta yang setia dan kematian.
Bunga itu adalah tentang aku dan dirinya.
Estar en Flor. It will bloom.