PEMILIK HATI (END/ Revisi slow).  Terbit

PEMILIK HATI (END/ Revisi slow). Terbit

  • WpView
    Reads 88,212
  • WpVote
    Votes 617
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Thu, Feb 5, 2026
"Ali. Seorang pemuda yang merasakan cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis mungil nan manis bernama Prilly. Hanya bisa mencintai dari jauh dan melalui surat-surat rahasia yang ia selipkan pada jendela kamar Prilly. Cintanya diuji kala jarak dan waktu mulai mengambil peran. Namun, cintanya tak pernah luntur sedikitpun. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali. Ali yang sudah menjadi anak remaja, mempunyai keinginan untuk mengatakannya pada Prilly. Prilly, tentu saja ia merasa sangat bahagia akan bertemu seseorang yang sangat mencintainya. Seseorang yang tidak pernah ia ketahui namun membuatnya nyaman. Namun, takdir cinta mulai memainkan kisahnya. Cinta Ali harus diuji antara dua pilihan. Cintanya pada Prilly, atau kasih sayangnya pada sang adik Bani. Yang jelas ia ketahui mempunyai perasaan yang sama pada Prilly. Akankah Ali merelakan atau bersikap egois? Akankah Prilly tahu siapa sebenarnya pengirim surat itu? Cek kisahnya
All Rights Reserved
#47
sisi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Mate
  • Highway [COMPLETED]
  • Miracle
  • Luck or Loss || [END]
  • Adikku Berubah (END)
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • TANPAMU [END]
  • The Villain Mother

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines