We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Revenge
  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 22, 2019
WpInfo
Non-Fiction
Siang itu terik sekali, aku memutuskan mengirim pesan kepadanya, Aku berkata "aku seringkali bertanya pada diriku sendiri, bolehkah aku cemburu padamu? tapi kembali lagi terlintas aku bukan siapa siapa di hidupmu, lalu mengapa kita sering bersama? Kenapa harus ada sebuah perjalanan di antara kita? kenapa aku harus menjaga hatiku? aku sudah tidak ingin memendam lagi, katamu rasa takut hanya akan membuat aku menunda mimpi mimpiku, dari itu setelah bertemu dengan kamu, kamu telah berhasil masuk dalam daftar mimpiku. Aku menyukaimu, lebih dari yang kamu tau, aku bicara terlebih dahulu, hanya ingin memastikan apakah kau punya rasa yang sama? atau tidak? jikapun tidak, setelah ini kau ingin membenciku karena merusak persahabatan kita, aku tak apa, setidaknya aku sudah bicara jujur terhadap perasaanku sendiri, Terimakasih"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Cinta Berbalut Puisi
  • Jodoh Pilihanmu, "Dia Yang Terbaik" (TAMAT)
  • PROSA
  • Detektif Paranormal, Loyals
  • CERPEN (END)
  • Disguise... [END]
  • pernah yang tak kan terulang kembali(love story from the author)
  • Feel Like Smile
  • Nuginara [END]

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines